Jumat, 18 Oktober 2019

KAPETA SELEKTA GPR DI LUSI

LINK: FILE INI DIINTEGRASIKAN DENGAN KONTEN DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK

8-9 Oktober 2019 telah dilaksanakan Konferensi GPR: FUTURE GEOPHYSICS INVESTIGATION YANG BERLANGSUNG DENGAN SUKSES, TERUTAMA KARENA PENGGUNA GPR SUDAH SEMAKIN MELUAS PADA BERBAGAI BIDANG "PEMBANGUNGAN".
Pada acara Pembukaan pihak Panitia menyampaikan suatu Histori, bahwa Pelaksanaan Even GPR yang pertama atas kerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) Kementrian ESDM, yang saat itu dimotori oleh Kris Budiono MSc.
Saya merasa Sangat Senang-Bahagia karena pada Cover KeyNote Speaker, juga telah memberikan Memori Apresiasi kepada Almarhum dengan catatan "Pionir Penerapan Teknologi Ground Penetration Radar GPR di PPGL" 2007, termasuk hasil studi tersebut telah digunakan sebagai alat bantu Ilmiah untuk Kebijakan dan Pengambilan Keputusan Pimpinan BPLS "UNTUK SEGERA MEMBANGUN TANGGUL LINGKAR LUAR SIRING, WALAUPUN MENDAPATKAN PENOLAKAN WARGA SETEMPAT". KEPUTUSAN/KEBIJAKAN LANGKAH MITIGASI UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA.
POLA DAN ALUR PIKIR DARI GLOBALKE LOKAL
DARI DIMENSI KEBIJAKAN STRATEGIS-OPRASIONAL KE ILMIAH,
GAMBAR MENGUNGKAPKAN SERIBU KATA!

Gambar mungkin berisi: 1 orang

DARI BUNGA MAWAR MERAH DI MAKAM KRIS BUDIONO SAMPAI APRESIASI PADA GAMBAR PEMBUKAAN KEYNOTE SPEAKER "GPR: FUTURE GEOPHYSICS INVESTIGATION" =>GPR-GEOHAZARD LUSI PENGURANGAN RISIKO BENCANA.
Keterangan foto tidak tersedia.
GPR SEBAGAI BAGIAN DARI RUMPUN ALAT BANTU GEOHAZARD: DIGUNAKAN UNTUK BERBAGAI KEPENTINGAN TERMASUK PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN/KEBIJAKAN PIMPINAN.
Gambar mungkin berisi: teks
CONTOH: GEOHAZARD PADA DIMENSI KEBIJAKAN PERPRES 14/2007 SAMPAI 33/2013:
1) Pada PAT 22 Maret wilayan PAT 5 Desember 2006, ditambahkan Luapan pasca Ledakan Pipa Gas ditambah Geohazard/Deformasi di Reno (timur);
2) Pemodeal Postur Luapan Lumpur selama 10 tahun asumsi Kedepaan semburan 100.000m3/h dan amblesan 4cm/hari, BILA LUSI DIBIARKAN ALAMI MAKA LUBERAN MELUAS KE BERBAGAI ARAH TRMASUK MENUTUPI JALAN ARTERI DAN MELUAS KE DAERAH PERTAMBAKAN DI TENGGARA;
3) 6 Oktober 2004 terjadi even Bajir Bandang Lumpur pekat yang merusak. Menandai telah terjadi Perulangan Semburan Besar > angka kritis 50.000m3/h-80.000m3/h sebagai salah satu pertimbangan pada penyusunan Dokumen EXIT STRATEGY BPLS YANG ELEGAN DAN PROFESIONAL.
Gambar mungkin berisi: teks
2007 berdasarkan monitoring visual di lapangan terhadap tanggul Osaka-Siring, diintegrasikan dengan penampang GPR di atas Tanggul Kritis. Kesimpulan bahwa Postur dan daya dukung Tanggul Siring-Osaka sudah Rapuh, tidak akan dapat menangkal luapan lumpur panas dengan intensitas 100.000m3/h diselaraskan dengan intensias amblesan ke arah barat 4cm/h.
PIMPINAN BPLS TELAH MENGAMBIL KEPUTUSAN BULAT BAHWA TANGGUL DALAM SIRING HARUS DITINGGALKAN, SEGERA MEMBANGUNG TANGGUL LINGKAR LUAR SIRING-OSAKA, WALAUPUN DIMAKNAI AKAN MENGHADAPI PERLAWANAN DARI WARGA PAT, SEBAGAI DAMPAK BERBANDA MASALAH SOSIAL KEMASYARAKATAN.
Tim Humas, Jajaran Deputi Sosial, Sekuriti telah mengembangkan Doktrin "HIT & NEGO dan HIT AND RUN" AKHIRNYA TANGGUL SIRING-OSAKA TERBANGUN.
PENDEKATAN LANGKAH MITIGASI BENCANA DILAKSANAKAN DENGAN PENDEKATAN KOMPREHENSIF, INTEGRAL DAN HOLISTIK.
Keterangan foto tidak tersedia.

IMPLEMENTASI TAHAPAN NORMALISASI DAN PEMBANGUNAN KEMBALI KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI BERSAMAAN LANGKAH MITIGASI PADA KEBENCANAAN DENGAN POLA SPIRAL DI LUSI.
Relokasi Infrastruktur dari Bencana Lusi merupakan yang perama di Indonesia dan Dunia, berbagai infrastruktur yang porak poranda pasca diterjang lumpur panas dan dampak berganda deformasi, direlokasi secara terpadu pada suatu Liniasi/Trase di sisi barat PAT.
BPLS sebagai kelanjutan TIMNAS PSLS menerima alternatif Opsi Trase Relokasi Infrastruktur.
Dinamika berkembang, telah dilakukan pengembilan keputusan untuk menetapkan Grand Design Relokasi Infrastruktur terpadu dari 3 alternatif Trase ditentukan berdasarkan 3 Indikator: Utama ~60% GeoHazard atau Deformasi (didalamnya trmasuk GPR); Didukung aspek Teknis/ekonomis dan Komplemen Sosial dan Kearifan Lokal.
Tahun 2019 Impian menjadi Kenyataan Relokasi Terpadu utamanya Jalan Tol=Arteri Ruas Porong-Gempol, Pipa PDAM Jaringan Listrik PLN. Kekecualian Pipa gas alam telah direlokasi ka sisi Barat PAT sudah beroperasi 2008. Rel KA ingin mencari.menggunakan Trase tersendiri atau keluar dari Grand Design Relokasi Infrastrukur terpadu.
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
Outlook Lusi ke depan telah ditentukan hal mendasar WHAT NEXT LUSI? Berdasarkan Informasi Ilmiah terkini dan Paradigma Baru "Lusi sebagai sistem Hidrotermal pada sedimen yang telah berhubungan dengan kantong magma gunung Arjuno-Welirang Penanggungan" diantaranya:
@ Semburan Lusi tidak dimatikan;
@ Akan berlangsung lama dengan skenario terukur 25 sampai 35 + 4 Tahun, sampai tidak dapat diukur kerena menjadi domain sistem Hidrotermal dipengaruhi tektonik;
@ Sudah mengalami perulangan semburan besar diatas angka kritis 50.000m3/h;
@ Indikasi Geohazard: Tubuh mud volcano purba Porong-1 dan di baratlaut Gawir Watukosek; Fluidasasi dan Longsoran pola P68; Keberadaan Sistem Patahan Watukosek memungkinkan Propagation gunung (model G Muria dan Penanggungan).
Antisipasi Perlu dilakukan Studi Mendalam Bawah Permukaan Lusi dan Sistem MONEV Terintegrasi. sebagai Langkah MITIGASI UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA.
Rencana Survei Seismik 3D disertai Pembentukan Timdu Lusi 2016, penentuan Grid Lintasan antara lain memanfaatkan Basis Data TLS -GPR (BPLS) dan Magnetotelurik (UNBRA).
Gambar mungkin berisi: teks
Penafsiran Citra Regional CRISP memperlihatkan dua Pola Struktur Utama di LUSI: 1) Pola Radial dikendalikan oleh struktur patahan kaldera melingkar; 2) Strukur utara-Selatan utamanya diperlihatkan oleh Zona Punggungan Himalaya (prisma Akrasi di utara) dengan pasangan sesar geser U-S menimbulkan Jebolnya Tanggul P68 sepanjang 300m; dan 3) Sruktur deformasi di Glagah dan Siring ditandai Sesar Utama Glagah dengan jurus struktur timur-timurlaut merupakan Antitetik Sesar utama U-S.
Kanan GPR pada lokasi Tanggul memperlihatkan deformasi pada lapisan dangkal.
Keterangan foto tidak tersedia.
Contoh Aktual Pronsip GPR sebagaimana dianalogikan dengan Penampang Seismik Refleksi di Lusi data asli sebelum semburan Lusi 2006 diproses ulang untuk berbagai kepentingan (Mazzini 2007, Istadi 2009, Davies 2011 dan Mark Tingay 2015); Pasca 2017 tersedia TLS dan InSAR untuk mendampingi GPR studi bawah permukaan dangkal. Telah tersedia penafsiran seismik ulang sampai pada satuan batuan sumber Formasi Kalibeng >4400m; Studi Genesis Patahan Watukosek dan Penampang Seismik Tomografi yang memperkuat Lusi berhubungan dengan kantong magma gunung Arjuno-Welirang dan Penanggungan.
Keterangan foto tidak tersedia.
TESTIMONI Pelajaran Berharga: Menerapkan prinsip dasar Seismik Refleksi mulai dari GPR (pnetrasi sangat dangkal) di Lusi, Seismik standar industri (Kedalaman Menengah Penampang Kedalaman "Depth Section" di Cekungan Bali-Lombok, telah menemukan struktur pembubungan (piercement structure) antara lain mud diapir; Pemetaan Rinci Flores Thrust Belt kombinasi Multibeam SeaMARC 3 dan seismik refleksi beresolusi tinggi dengan sumber water gun, antara lan menemukan mud volcano; Penampang seismik resolusi tinggi di Selat Sumba menemukan mud diapir aktif; Penampang Seismik Dalam menembus MOHO dari Cekungan Banda ke Tepian Benua Australia, termasuk menemukan pembuktian bahwa gunung api di Cekungan Banda dibentuk oleh suatu sesar Leaky Transform memotong busur (cross arc) bisa dianalogikan dengan G Muria atau propagasi G Penanggungan.
Keterangan foto tidak tersedia.
Pemaparan Paper penerapan GPR di Lusi oleh Alwi Hesein (2014) BPLS-PPLS pada Pertemuan Ilmiah Internasional. Ditampilkan secara lokal penampang dan penafsiran GPR dari Tanggul Lusi.
Saya tampilkan Postur Jebolan Tanggul P68 diawali dengan pembentukan struktur Longsoran dikendalikan sepasang sesar geser U-S pada pojok utara seelah membobolkan Tanggul P69 longsoran-likuifaksi membentuk struktur Punggungan Sesar Naik tinggi 25m panjang 300m saya sebut sebagai PUNGGUNGAN HIMALAYA.
Penerapan Monev terpadu dengan GPR diharapkan dapat menentukan titik lemah dikendalikan oleh mekanisme struktur regional.
BAGIAN DARI LANGKAH MITIGASI UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA.
Gambar mungkin berisi: teks
Conoh penerapan GPR untuk memahami Pengendali Mekanisme Bubble berdimensi besar disertai dengan paparan gas metan sehingga mengalami Kebakaran (Bubble Okky di Siring).
Gambar mungkin berisi: teks
Penerapan GPR sebagai MONEV Geohazrd Rutin di Lsi , memperjelas Postur Retakan di Tanggul dan dipadukan dengan metoda GeoListrik (Alwi Husein 2014). InSET pemanfaatan GPR untuk berbagai kepentingan pada misi Nasional Penanggulangan Lusi Masa Lalu, Sekarang dan Ke depan pada domain MONEV GEYSER LUSI.

PENDALAM PAPARAN "GPR-GEOHAZARD LUSI: PENGURANGAN RISIKO BENCANA"

PENDALAM DAN PEMAKNAAN

PAPARAN "GPR-GEOHAZARD LUSI: PENGURANGAN RISIKO BENCANA",  8 OKTOBER 2019

Dikontribusikan oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo. Mantan Pimpinan BPLS 2007-2017, sebelumnya Staf Ahli 3 Menteri ESDM, Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.

Inisiator:

@ LUSI LIBRARY KNOWLEDGE MANAGEMENT 2010-2017

@ GEYSER LUSI LIBRARY & VIRTUAL MUSEUM LUSI 2018
@  PERUBAHAN MENDASAR LUSI DARI KONTROVERSI MENUJU KEBERSAMAAN MENCARI SOLUSI YANG HOLISTIK; 
MENUJU  PARADIGMA BARU HIDUP HAMOMNI DENGAN BENCANA 
MENGGULIRKAN LUSI MENUJU GEOPARK MENGEDEPANKAN GEOWISATA GEYSER LUSI DAN EKOWISATA PULAU LUMPUR LUSI YANG DIAWALI DI MUSEUM SIDNEY AUSTRALIA 2010.

 PROLOG: 


Kontribusi GEYSER LUSI LIBRARY&VIRTUAL MUSEUM 2018, dikembangkan sebagai kelanjutan Situs Internet awal Misi Nasional Penanggulangan Lusi "LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT" merupakan langkah Nyata Awal Perubahan Paradigma Dari Kontroversi Pemicu Lusi menjadi kebersamaan mencari solusi yang Holistik. Sekaligus Awal Menggelorakan PARADIGMA HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA!

Khususnya untuk mendukung Paparan GPR GEOHAZARD GEYSER LUSI 8-9  OKTOBER 2019, DI BANDUNG, maka pada Paparan saya di ITS Desember 2007 telah ditampilkan Contoh Nyata penerapan GPR baik untuk Monev Deformasi bagian dari GeoHazard. 

Maupun hasil GPR telah digunakan sebagai basis pengambilan Keputusan untuk segera Harus Membangun Tanggul Lingkar Luar Siring, walaupun sebagai konsekuensi akan menghadapi Penolakan dari Warga terkait penyelesaian Penanganan Masalah Sosial Kemasyarakatan dengan pola Cash and Carry dilandasi Perpres 14/2007 tentang BPLS.

PAPARAN TERDAHULU:  19 SEPTEMBER 2019  DI BANDUNG 

"GEYSER LUSI: PENANGGULANGAN BENCANA"INOVATIF& HOLISTIK"

Image result for GEyser lusi 2019

Slide Pembukaan merangkum Aspek Keseluruhan dengan pendekatan "Berpikir Global dan Bertindak Lokal-Regional". 
Menakankan PEMANFAATAN TEKNOLOGI GPR MASA LALU (2007), SAAT INI DAN KEDEPAN =>2019, PADA KEBENCANAAN GEYSER LUSI, suatu SISTEM HIDROTERMAL YANG AKAN BERLANGSUNG LAMA

 "GPR (GROUND PENETRATION RADAR) - GEOHAZAR LUSI  suatu SISTEM HIDROTERMAL pada SEDIMEN (Sediment-hosted Hydrothermal System) di Busur Belakang  (Backarc basin) dari Sistem Parit Busur Sunda (Sunda Trench Arc System): PENGURANGAN RISIKO BENCANA.

Diaktualisasikan dalam Kebijakan Kebencanaan di Milinium  "INFORMASI KEBUMIA SEBAGAI ALAT BANTU UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA".

Dikontribusikan oleh Hardi Prasetyo, Eks Pimpinan BPLS 2007-2017. Sebagai suatu Memori kepada Kris Budiono, Pahlawan  November 2018, Pusat Penelitian dan pengembangan Geologi Kelautan PPPGL, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral KESDM.


ABSTRAK

 Paparan ini menempatkan Ground Penetration Radar GPR dalam Pola Pikir yang Luas "GPR-GeoHazard Geyser Lusi: Pengurangan Risiko Bencana Bersiklus"

Disertai Rekomendasi "Pengembangan Sistem Pemantauaan Terintegrasi berdimensi Regional", sebagai akomodasi usulan  terdahulu antara ASU (Arizona State University USA), LUSI LAB (Konsorsium Institusi Kebumian      Masyarakat Eropa)-BMKG, Badan Geologi KESDM, dan  Sistem POLIGON Rusia (2009).

Disamping itu Basis Data terintegrasi berkelanjutan TLS-GPR-DRONE yang telah dihimpin sejak BPLS, sebagai alat bantu menentukan Grid untuk Rencana Penyelidikan Seismik 3D.

Sejak kelahirannya Mei 2006 Lumpur Sidoarjo (LUSI) terus mengalami evolusi yang dramatis, sehingga setelah 13 tahun berlalu tanpa henti,  telah menempati posisi sebagai suatu Sistem Hidro/Geotermal pada sedimen (Sediment-hosted Hydro/GeoThermal system SHHS) di busur belakang (backarc) yang telah berhubungan dengan sistem gunung magmatik di busur depan (forearc).

Ground Penetration Radar GPR merupakan bagian tak terpisahkan dari “Geohazard Lusi” sejak 2007-2019  telah berperan sebagai bagian Monev dinamika postur dan perilaku Geyser Lusi dan dampaknya, baik untuk langkah mitigasi berkelanjutan maupun pada pemilihan opsi kebijakan khusus, diantaranya : 

1) Bagian aspek Deformasi (patahan, rekahan, dan lipatan) di Reno bagian untuk Penentuan Peta Area Terdampak  (PAT) 22 Maret 2007; 
2) 2007 Keputusan bahwa Tanggul Lingkar luar Siring harus dibangun walau menghadapi penolakan warga; 
3) Geohazard ditetapkan sebagai faktor dominan (lainnya teknis dan sosial-ekonomi) pada pemilihan dari 3 Opsi untuk finalisasi Trase Relokasi Infrastruktur Terpadu di barat PAT, saat ini telah beroperasi; dan 
4) Geohazard sebagai indikator utama (lainnya Lingkungan dan Gejolak Sosial Kemasyarakatan) pada penentuan Wilayah Terdampak DI LUAR PAT  22 MARET 2007 menjadi dasar informasi Kebumian untuk empat Peraturan Presiden 49/2009, 61/2011, 37/2012 dan 33/2013.

Bencana ditimbulkan LUSI kurun waktu 2006-2019 merupakan terbesar di Dunia telah menunjukkan Keunikan, Kontroversi, dan Berevolusi. 

Penanggulangan bencana LUSI yang bersiklus atau dengan pola "Spiral" dibandingkan  yang konvensional berlaku pada Kebencanaan Lainnya, belum ada acuannya. 

Sehingga dituntut untuk dilakukan Inovasi dan belajar sambil bekerja, dilaksanakan secara komprehenif, integral dan holistik dengan outcome menghasilkan suatu "Pelajaran Berharga dari Sebuah Bencana di Milenium". 

Paradigma Baru yang digulirkan sejak 2010&2011 "Hidup Harmoni Dengan Bencana" menuju berbagai pemanfaatan dengan sasaran antara lain “Laboratorium Studi Geyser Sistem Hidrotermal pada sedimen” serta Taman Bumi (GeoPark) dengan mengedepankan GeoWisata Geyser Lusi dan Ekowisata Pulau Lusi.

Informasi Kebumian terhimpun 2006-2017 telah digunakan untuk tahap Pengambilan Keputusan Kebijakan Penanggulangan Geyser Lusi ke depan, merupakan suatu langkah Inovasi Exit Strategy BPLS yang elegan 2017, yaitu: 

1) Kedudukan Geyser Lusi sebagai sistem hidrotermal yang baru lahir (new born hydrothermal system) dan telah berhubungan dengan gunung magmatik, sehingga dapat/akan memberikan implikasi Geohazard dan berkontribusi gas rumah kaca Global; 
2) Geyser Lusi sudah dipengaruhi faktor eksternal tektonik yaitu gempabumi dan aktivitas gunungapi; 
3) Semburan Lusi sudah TIDAK AKAN DIBUNUH, setelah teknologi Relief Well 1& 2 merupakan senjata pamungkas dinyatakan gagal, sedangkan alternatif insersi rangkaian bola-bola beton juga gagl; 
4) Semburan pola Geyser Klastik (Clastic Geysering) akan berlangsung lama dari "Sulit/Tidak dapat Ditentukan" sampai kisaran 26-35 Tahun; dan 
5) Sebagai implikasi telah diindikasikan risiko Geohazard yang harus ditindaklanjuti dengan langkah mitigasi.

Simposium Internasional Ilmiah Lusi Mei 2011 dilaksanakan oleh BPLS bekerjasama dengan HSF Australia telah ditetapkan sebagai tonggak terhadap: 
a)  “Rekonsiliasi sekaligus Komitmen Kebersamaan mencari Solusi Lusi yang holistik ke depan”;
b) Penyamaan Persepsi dan Knowledga Postur dan Perilaku Lusi, serta menentukan kecepatan semburan 15.000m3/h (status 2011), Oktober 2014 telah terjadi perulangan semburan besar dengan intensitas =>50.000m3/h; 
c) Pengukuhan fenomena Lusi sebagai Geoharitage yang dikenal global (Global Geoheritege); dan 
d) Sinar Terang menuju berbagai pemanfaatan "Laboratorium Geyser Hidrotermal", kandungan Litium, Yodium, mikroba untuk pengobatan, lumpur memecahkan rekor dunia MURI Melukis cepat, energi panas bumi skala kecil, menuju Geopark mengedepankan Geowisata Geyser Lusi dan Ekowisata Pulau lusi.
Pada Grand Design studi Seismik 3D (Perencanaan TIMDU LUSI 2016) Database BPLS-PPLS yang terhimpun akan diintegrasikan pada Grid Akuisisi 3D, diantaranya: TLS-GPR- Magnetotelurik, seismik refleksi 2-D, dan Lusi 3D berdasarkan kajian GIS 3D Tim Rusia (2009).
Hasil studi Kebumian Lusi sampai pada kesimpulan harus dilakukan sistem Pemantauan yang Terintegrasi, Berkelanjutan mencakup semi-regional (mencakup wilayah di luar LUSI, seperi sekitar G. volkanik AWR). 
Outlook bahwa GPR-GeoHazard dapat menjadi bagian terdepan dan rutin untuk mengamankan langkah pemanfaatan menuju GeoWisata dan Geopark. 

Link Makalah Terbaru:


LUSI SISTEM HYDROTERMAL PADA SEDIMEN TERBESAR DI DUNIA




Contoh Penerapan GPR di LUSI 2007 sebagai kerjasama antara PPPGL KESDM dengan BPLS.
A. Atas Contoh tahap pengambilan Data GPR di Tanggul Lusi, dimana alat GPR ditarik dengan kendaraan yang bergerak di Tanggul Penahan Luapan Lusi. Contoh  Rekaman GPR  yang telah di proses menggambarkan  postur bawah permukaan dangkal sepanjang Tanggul. 
Bawah, contoh visual kondisi Tanggul Osaka-Siring (baratlaut Lusi) yang telah mengalami deformasi rekahan, longsoran diintegrasikan dengan penampanganGPR  sepanjang Tanggul.
Informasi Lapangan dari GPR  dan diintegrasikan dengan data lainnya sebagai alat bantu sehingga Pimpinan BPLS  dapat langsung melakukan pertemuan di Lapangan untuk proses PENGAMBILAN KEPUTUSAN  STRATEGIS BAHWA "TANGGUL LINGKAR LUAR SIRING HARUS DIBANGUN WALAUPUN AKAN MENGHADAPI PENOLAKAN DAN PERLAWANAN DIKENDALIKAN OLEH MASALAH SOSIAL KEMASYARAKATAN".


Kiri GPR pada hakekatnya mempunyai kesamaan teknologi sebagaimana seismik refleksi 2D, yaitu untuk mencitra postur bawah permukaan dengan penetrasi dangkal ~25m. Peralatan Transducer dan Reciever  portabel sehingga sangat mudah untuk diterapkan pada berbagai MEDAN seperti jalan raya atau di atas Tanggul Lusi.
Bawah, ditampilkan perbandingan keberadaan 4 Penampang Seismik Refleksi 2-D beserta berbagai tujuan, dimana menggunakan satu sumber  data penampang seismik yang diambil pada kegiatan eksplorasi Migas sebelum kejadian Lusi 2006: 
1) 2007, Mazzini, penampang seismik  refleksi (Waktu rambat detik) diintegrasikan dengan lokasi Pemboran sumur BJP-1, tanpa dilakukan penafsiran, kedalaman maksimum penetrasi pada lapisan dibawah total kedalaman sumur yaitu satuan batugamping Formasi Kujung/Prupuh. Pada daerah ditembus sumur BJP-1 terlihat karakteristik gangguan pada perlapisan tanpa pemantul berlanjut, gejala dari struktur pembubungan (piercement structure), atau diapir.
2) Istadi 2009, memproses data seismik refleksi di bawah BJP-1 dengan tujuan khusus mendapatkan parameter kecepatan rambat sedimen, asumsi porositas   awal (initial porosity), menghitung ketebalan (meter) dan volume lapisan asumsi sumber lumpur dari satuan lempung di Formasi Kalibeng Atas, selanjutnya  dibagi dengan kecepatan semburan yaitu 100.000m3/har,i dihasilkan kisaran panjang umur semburan Lusi 25-35 Tahun?
3) Davies 2011, Menampilkan penafsiran penampang seismik refleksi yang diproses untuk menggambarkan lapisan sumber air pada satuan batugamping Formasi Prupuh, sumber Lumpur pada satuan Lempung Formasi Kalibeng Atas. Struktur Sesar pola segitiga analogi Patahan Watukosek diantara Pemboran sumur BJP-1. Telah dimodel perhitungan berbasis keberadaan air pada reservoir batugamping Prupuh diasumsikan sebagai sistem tertutup (tidak ada imbuhan) menghasilkan angka 26 Tahun. Juga berdasarkan perhitungan kecepatan amblesan dari Abidin 2008 yaitu 4cm/hari maka pada kurun 10 tahun dapat menimbulkan total amblesan ~140m.
4) 2015 Tingay menampilkan pola stratigrafi dan struktur pada penampang seismik yang diproses ulang untuk kepentingan khusus menghitung tekanan pori awal (initial pore pressure). Ditekankan pada perpotongan dengan sumur BJP1 terdapat stuktur "diapirik", patahan pada kedudukan dalam yang berkembang tidak ditafsirkan  sebagai aktif ke permukaan sebagaimana Davies 2007. 
Disimpulkan bahwa tekanan pori awal lebih besar nilainya daripada yang digunakan oleh beberapa peneliti sebelumnya (Istadi dan Davies), sebagai konsekuensi perhitungan panjang umur semburan Lusi yang dihasilkan 35 Tahun (Istadi) dan 26 Tahun (Davies) seyogyanya lebih panjang, bila diasumsikan ~ 5 tahun kisaran menjadi 31-40 Tahun.





Kanan: Ditampilkan Inset KAJIAN SIMULASI KONDISI BAWAH PERMUKAAN LUMPUR SIDOARJO, yang pada hakeketnya merupakan suatu Paradigma Baru Lusi: Sistem Hidrotermal Aktif pada  Sedimen yang telah berhubungan dengan Gunung Api Arjuno-Welirang-Penanggungan
Perubahan Mendasar sebagai landasan Paradigma Baru Geyser Lusi adalah 25 Mei 2011, pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi dilaksanakan oleh BPLS bekerjasama HSF Australia. Dimana Mazzini 2011 telahmendeklarasikan bahwa LUSI BUKAN SEBAGAI MUD VOLCANO YANG UMUM ATAU KONVENSIONAL (TYPE MUD VOLCANO) MERUPAKAN HASIL DARI VOLKANISME SEDIMEN, TAPI TIPE HIBRIDA (A TYPE MUD VOLCANO) SUATU GEYSER LUSI MERUPAKAN SISTEM  HIDROTRMAL AKTIF  YANG BERKEDUDUKAN DALAM DAN TELAH BERHUBUNGAN DENGAN GUNUNG API AWP.
a) (Kanan Atas) Penampang seimik tomografi (2017) sebagai bukti baru yang meyakinkan bahwa Lusi telah dihubungkan dengan kantong magma  (magma chamber) gununa Arjuno-Welirang melalui suatu saluran dengan kedalaman ~ 6 km. Diasumsikan difasilitasi oleh Sistem Patahan Watukosek. Bukti ini memperkuat hasil analisis geokimia, penentuan sumber klastik, dan lain-lain'
b) Tahun 2010 dari Even "FROM RUSSIAN WITH LUSI" saya berhasil memperolah dokumen hasil studi Tim Rusia tentang Lusi (Kadurin 2009), dimana hal mendasar yaitu ditemukan keberadaan 2 struktur lumpur (mud structure) selain Lusi, disertai dengan peringatan dini (Early Warning) bila dipicu oleh gempabumi struktur tersebut dapat berkembang menjadi  suatu mud volcano aktif seperti LUSI. 
Hasil pendalaman ternyata struktur lumpur pada posisi di timurlaut Lusi adalah tubuh mud volcano purba (paleo mud volcano) dikenal sebagai struktur Porong-1 merupakan       struktur runtuhan purba (paleo collapse structure) mencapai total amblesan 700m dan radius 4 km (Shildston 2014). 
Pada Makalah terbaru Lusi 2019 (hasil LUSI LAB 2019) ditafsirkan bahwa sistem hidrotermal purba  (paleo hydrotermal system)  sedimen di Porong-1, setelah mengalami struktur runtah luar biasa ~700m sehingga mati, dimulai even kelanjutan yang terkait Lusi?
c) Pemodelan Geologi 3-D Lusi berdasarkan temuan-temuan terbaru dari Lusi-LAB (2013-2017) menggambarkan system hidrotrmal Geyser Lusi dikendalikan oleh adanya pengaruh magma dari gunung api AWR berupa "Sill", sehingga panas yang ditimbulkan mempengaruhi sedimen yang kaya dengan material organik di buser belakang, dimana Lusi berada. 
Migrasi fluida magmatik dan hidrotermal dikendalikan oleh Patahan Watukosek yang berawal di gugusan gunung AWP di busur depan.
d) Kiri Bawah: Studi seismik refleksi  diproses ulang telah dapat mengindikasikan Genesis Patahan Watukosek pada kedalaman, yang pada berapa titik diasumsikan muncul dipermukaan.
e) Kiri Atas: TESTIMONI berdasarkan pengamatan langsung dan rekaman Drone dapat disimpulkan bahwa postur dan perilaku Geyser Lusi, telah dipengaruhi oleh kejadian tektonik yaitu gempabumi baik dipicu pada megathrust maupun backarcthrust, juga aktivitas gunung api.
f) Kiri Tengah: Karena Geyser Lusi sudah ditetapkan tidak akan Dimatikan dan akan  berlangsung Lama, diindikasikan potensi Geohazard ke depan. 
Sehingga  ditetapkan bahwa  teknologi GPR tetap akan memainkan peran penting mendukung langkah  Mitigasi, untuk mengurangi Risiko Bencana Lusi ke depan!

Menampilkan Perubahan Mendasar menuju Outlook Ke depan.


PROSES TRANSISI DARI "LUSI 13 TAHUN: PELAJARAN SUATU SEMBURAN LUMPUR MERUSAK MENUJU HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA"

MENUU OUTLOOK KEDEPAN.

“GO LUSI”: Laboratorium Alam, Unggulan Studi Sistem Hidrotermal-Sedimen Aktif Terbesar di Dunia, MENUJU GEOPARK MENGEDEDEPANKAN PESONA GEOWISATA GEYSER LUSI DAN EKOWISATA PULAU LUMPUR LUSI

Pola dan Alur Pikir:
  1. Kanan Atas-Bawah: Pola Kebencanaan LUSI komplek dengan Pola Spiral bila dibandingkan dengan kosep Tahapan Penanggulangan Bencana Satu Putaran "Bencana-Respon-Pemulihan-Pembangungan Kembali-Analisis dan Langkah Mitigasi".
  2. Penanggulangan Bencana Lusi dalam Penentuan PETA AREA TERDAMPAK ditentukan oleh indikator utama dan pendukung yaitu: Semburan Geyser, Luapan Lumpur Panas, GeoHazard/Deformasi, dan Gejolak Sosial Kemasyarakatan;
  3. Dimensi Kewilayahan Penanggulangan Lusi komplek dibentuk oleh: 1) Geyser Lusi dengan 2 Sumburan sebagai pengendali utama Bencana-lanjut Luapan dan Geohazard; 2) Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 terus meluas di luar PAT 2008-2013; 3) Kali Porong dari hulu sampai Muara sebagai alat bentu mengalirkan Lusi ke laut menggunakan energi bebas, termasuk Pulau Lumpur Lusi di Muara Kali Porong; 4) Relokasi Infrastruktur Terpadu pertama di Indonesia, Jalan Tol-Arteri, Jarul Pipa PDAM, Energi Listrik, Pila Gas dan rencana Jalur Rel KA; 5) Blog Brantas merupakan Kontrak Production Sharing dimana PT Lapindo melakukan eksploitasi migas dan eksplorasi pada Prospek BJP-1, Kontrak 30 Tahun telah diperbarui 2019; dan  5) Gugusan gunung api Arjuno-Welirang dan Penanggungan di baratdaya Lusi sejak 2017 telah dikonfirmasi sebagai pengendali semburan Geyser Lusi yang akan berlangsung lama dan tidak akan dimatikan. Juga telah ditentukan keberadaan awal dari Sistem Patahan Watukosek telah berimplikasi propagasi dari Gunung Penanggungan kearah timurlaut.
  4. GPR diintegrasikan dengan metoda geologi-geofisika lainnya ke depan akan menjadi subsistem dari usulan "SISTEM PEMANTUAN GEYSER LUSI TERBESAR DI DUNIA BERPOTENSI GEOHAZARD  ALAT BANTU MITIGASI UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA" (Prasetyo 2019). Secara operasional GPR akan memantau Kesetabilan Tanggul Lusi yang sudah berumur >10 Tahun maupun lebih regional untuk antisipasi dampak deformasi ditimbulkan aspek eksternal/regional (deformasi akibar fluidasasi atau dipicu Patahan Watukosek).




SLIDE 3: GEYSER LUSI AKTIF TERBESAR DI DUNIA

Mendapatkan Perhatian Global: TER-Unik-Kontroversi; Gejolak Sosial Masif Berkelanjutan; Kebijakan Penanggulangan Bencana pola SPIRAN; HOLISTIK: Korban fatal 18 Pahlawan Lusi, ISU JENDER => Pemberdayaan dengan "SRIKANDI LUSI".
DITUNTUT BERINOVASI => "LEARNING BY DOING" => PELAJARAN BERHARGA DARISUATU BENCANA MILTIDIMENSI.

Kiri Bawah "KEDUDUKAN TEKTONIK -GEOLOGI LUSI SEBAGAI SISTEM HIDROTERMAL PADA SEDIMEN DI CEKUNGAN BUSUR BELAKANG" : 1) Pada Ring of Fire Indo-Pacific; 2) Rangkaian Bencana Alam Tsunami NAD 2004, Gempa Yogyakarta 2006, 3) Geyser Lusi 2006, 4) Gempa Lombok 2018, dan 5) Gempa&Tsunami Palu;


Tengah Bawah: 2016 selaku Kepala BPLS membentuk TIM TERPADU LUSI 2016 menyiapkan Grand Design dan Preaudit RABN untuk Studi Mendalam Bawah Permukaan Lusi menerapkan teknologi Seismik 3-d merupakan standar industri Migas;
Sebagai tindak Lanjut Instruksi No.2 Ka DP BPLS kepada Kepala BPLS, telah dibentuk TIM TERPADU LUSI 2016

Kanan Bawah: Paradigma HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA dengan berbagai Kemanfaatan:
 1)  Lusi Laboratorium Alam Pusat Unggulan Studi Geyser Sistem Hidrotermal pada sedimen Terbesar di dunia; 2) Temuan Litium bahan baku baterei HP, Jodium untuk farmasi, Mikroba berkedudukan dalam bahan obat kangker, lumpur untuk berbagai kepentingan telah memecahkan Rekor MURI melukis cepat dengan campuran lumpur-cat di Lusi; 3) Sejak 2010 di Museum Sidney Australia telah dipromosikan menuju peta perjalanan usulan Geopark mengedepankan GEOWISATA PESONA GEYSER LUSI DAN EKOWISATA PULAU LUMPUR LUSI.

DILANJUTKAN PADA BAGIAN 2






Jumat, 11 Oktober 2019

LUSI SISTEM HYDROTERMAL PADA SEDIMEN TERBESAR DI DUNIA

Earth-Science Reviews
Dikontribusikan oleh: Dr. Hardi Prasetyo, Inisiator “Geyser Lusi Library & Virtual Museum 2019” kelanjutan dari “LUSI LIBRARY KNOWLEDGE MANAGEMENT 2010″
PILIHAN MAKALAH UTAMA:
  • Makalah Ilmiah Pilihan ini merupakan salah satu hasil kerjasama berkelanjutan, antara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dengan Oslo University  Norwey melalui Program LUSI LAB, dipimpin oleh Dr. Andriano Mazzini.
  • Aspek Pemanfaatan: Analogi Geyser LUSI khususnya dengan Salton Sea di Ca-USA dimana keduanya ditentukan sebgai  "SistemHidro/Geothermal pada sedimen SHHS  Sediment-HostedHydrothermalSystem". 
  • Salton Sea SHHS saat ini yang telah menghasilkan Energi dari Pembangkit Panas Bumi, sedang dalam perjalanan menuju potensi pemanfaatan "Lithium America" diharapkan akan  menjadi cadangan terbesar USA, untuk mendukung rantai pasokan  transformasi teknologi hijau. 
  • Tahun 2011 pada Simposium Ilmiah Internasional  LUSI telah dideklarasikan 'LUSI MERUPAKAN SHHS AKTIF TERBESAR DI DUNIA". 
  • Pada kaitan dengan  aspek "Pemanfaatan kedepan" diwarnai dengan suatu "Inovasi strategis" yaitu temuan Lithium dengan "kadar" yang  dianalogikan dengan Tambang terkenal Lithium di Bolivia (Prof. Tanikawa). Disamping itu  memiliki  Potensi Energi Panas Bumi sekala Kecil (Dr. Sudarman-USAKTI). 
  • Pasca Deklarasi Lithium Lusi mulailah bergulir "Demam Emas Lithium Lusi". 
  • Pada Tahap Evolusi awal Lusi sebagai Mud Volcano konvensional, dikenal merupakan hasil volkanisme sedimen (sedimentary volcanism), hasil studi rinci Badan Geologi KESDM terhadap contoh lumpur LUSI tahun 2018? (dipaparkan Ir. Hedi pada Pengenalan Embrio Geopark Lusi, November 2015 di BPLS, acara dipimpin Dr. Ir Yunus) tidak diketemukan kandungan mineral yang berarti. 
  • Diasumsikan bahwaTemuan kandungan Lithium  Lusi 2011 diasosiasikan pasca Lusi telah menjadi lebih dewasa berkembang sebagai suatu ACTIVE SEDIMENT-HOSTED HYDRO/GEO THERMAL YANG TERBESAR DI DUNIA, dimana secara formal dideklarasika pada Simposium Ilmiah Internasional Lusi 26 Mei 2011 dilaksanakan oleh BPLS & HSF Australia tersebut.
  1. SEARCH GOOGLE; KANDUNGAN MINERAL EKONOMIS PADA LUMPUR SIDOARDJO 

    https://www.its.ac.id/tgeofisika/wp-content/... · PDF file

    tekMira, menunjukkan adanya potensi litium yang cukup potensial. Terdapat potensi Stronsium (Sr) dan Litium (Li), masing-masing sebesar 500 ppm dan 125 ppm pada sampel lumpur. Terdapat potensi Stronsiom (Sr) dan Litium (Li), masing-masing sebesar 500 ppm dan 125 ppm pada sampel LuSi. Balitbang ESDM (Puslitbang tekMIRA) bersama Badan Geologi.

  • Mei 2020 pada WebBinar dilaksanakan oleh Tekmira KESDM, saya menindak lanjuti Deklarasi Lithium Lusi 2011, dengan menyajikan makalah Inovasi "Dari temuan Lithium Lusi sampai Paradigma Baru Industri Pertambangn mineral kritis di Laut Dalam -DeepSeaMining DSM"Sebagai TESTIMONI atas temuan Lithium dan pemanfaatan ke depan dengan dilandasi paradigma "HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA".
Image result for GEyser lusi 2019
Image result for GEyser lusi 2019
Ujicoba Blog HARDIP_INOVASI 2020 WORPRESS.COM
Sumber Makalah merupakan Hasil Kerjasama BPLS- LUSI LAB
ELSEVIER Volume 192, May  2019, Page 529-544
Pecesi, M. Ciotoli, G. Mazzini, A. Eriope, G,
Image result for GEyser lusi 2019
Sistem Geotermal ditempati Sedimen: Tinjauan dan Pemetaan global pertama kali
Sediment-hosted geothermal systems: Review and first global mapping
 Evaluasi Kata Kunci: Lusi SHGS
  • Sistem Geotermal
  • Berlangsung pada cekungan sedimen
  • Pertama kalinya ditinjau dan dipetakan secara global dimana Geyser Lusi merupakan salah satunya!
Outline
  1. ‎Pendahuluan‎
  2. ‎Definisi‎
  3. ‎ SHGS yang diidentifikasi sebelumnya‎
    • ‎3.1. Cekungan Guaymas (Teluk California)‎
    • ‎3.2. Laut Salton (California)‎
    • ‎3.3. Lusi (Jawa Timur)‎
    • ‎3.4. Delta Tiber – Fiumicino (Italia)‎
    • ‎3.5. Cekungan Songliao, lapangan Changde Timur (Cina)                  4. Kriteria awal untuk identifikasi dan karakterisasi SHGS‎ 
    • ‎4.1. Kendala‎
    • ‎4.1.1. Kendala geokimia gas
    • ‎4.1.2. Kendala geologi‎
    • ‎4.2. Identifikasi SHGS baru‎
      • ‎4.2.1. Daftar baru SHGS potensial‎
      • ‎4.2.2. Analisis spasial dan pemetaan daerah rawan SHGS‎
  4. ‎Implikasi sumber daya lingkungan dan energi dari SHGSs‎
  5. ‎Kesimpulan‎

ABSTRAK
  • Pengenalan dan pernyataan  bahwa  Sistem Panasbumi pada Sedimen (SPPS) merupakan suatu fenomena atau sistem hibrida
Sistem Panas bumi pada Sedimen Geothermal Systems (SHGSs) merupakan sistem geologi hibrida hybrid geological systems.
  • Sistem geologi hibrida SPPS terjadi suatu interaksi antara volkanisme dan sedimentasi
SHGS dimana domain vulkanik dan sedimen berinteraksi volcanic and sedimentary domains interact.
  • Interaksi antara volkanik dan sedimen menyebabkan terjadinya percampuran antara gas-gas organik dan anorganik
Telah mengarahkan percampuran gas-gas anorganik dan organik leading to mixtures of inorganic and organic gases.
  • Pada SGDS ciri khas dari percampuran gas-gas yaitu CO2 sebagai geotermal termometamorfik merupakan turunan dari mantel dan CH4 biotik dari mikroba atau termogenik
Jenis SHGS  CO2 dicirikan oleh geotermal  yaitu termometamorfik atau turunan mantel (thermometamorphic or mantle-derived)  dan CH4 biotik biotic  dari mikroba atau termogenik (microbial or thermogenic).
  • Kejadian SGDS berlangsung pada cekungan sedimen dimana dilintasi atau ditembus oleh intrusi magmatik, atau terlibat pada sistem saluran volkanik
SHGS terjadi pada cekungan sedimen occur in sedimentary basins yang dilintasi crossed oleh intrusi magmatik magmatic intrusions atau terlibat pada sistem saluran vulkanik volcanic plumbing systems.
  • SGDS dengan karakteristik  sistem hibrida yang khas tersebut, sehingga sangat menarik untuk eksplorasi Migas dan studi emisi gas rumah kaca
Sistem SHHS ini mungkin sangat menarik untuk eksplorasi minyak dan gas bumi considerable interest for petroleum exploration dan studi emisi gas rumah kaca alami natural greenhouse-gas emission studies.
  • Upaya studi secara sistematis untuk mengkarakterisasikan dan menentukan sebaran di seluruh dunia selama ini belum ada
Namun studi secara sistematis systematic studies untuk karakterisasi for their characterization dan distribusi SHHS di seluruh dunia worldwide distribution belum ada.
  • Makalah ilmiah ini menampilkan hasil suatu tinjauan terhadap SHGS yang dapat diidentifikasikan dan mengusulkan kriteria metodologi untuk mendifinisikan dan mengidentifikasikan menggunakan parameter geologi dan geokimia gas yang terintegrasi
  • Makalah ini menyediakan suatu tinjauan terhadap SHGS yang sejauh ini dapat diidentifikasi, dan mengusulkan kriteria metodologis untuk mendefinisi dan mengidentifikasikannya propose methodological criteria for their definition and identification, berdasarkan parameter geologi dan geokimia gas yang terintegrasi based on integrated geological and gas-geochemical parameters.
  • Berdasarkan kriteria tersebut telah ditetapkan empat karakteristik dari SHHS yaitu:
a) Cairan didominasi CO2 (> 50 vol %) turunan dari mantel atau dekarbonasi-metamorfik;
b) CH4 yang berlimpah dan hidrokarbon berat (1,5-40 vol%) dihasilkan dari degradasi mikroba atau termogenik material organik di dalam batuan sedimen;
c) Pengendali tektonik aktif pada cekungan sedimen termasuk kedudukan busur belakang, zona peregangan dan cekungan “foreland”; dan
d) Umumnya ditempati oleh lapangan migas yang berjarak ~300 km dari pusat gunung api.
  • Ditemukan bahwa SHGS biasanya ditandai oleh:
(a) CO2 cairan yang didominasi oleh mantel fluids dominated by mantle atau dekarbonasi-metamorfik  CO2 (> 50 vol%);
(b) Sejumlah besar CH4 dan hidrokarbon yang lebih berat heavier hydrocarbons (setidaknya 1,5 vol%, umumnya hingga 30-40 vol%), diproduksi oleh degradasi mikroba atau degradasi termogenik produced by microbial or thermogenic degradation dari bahan organik of organic matter yang disimpan dalam batuan sedimen hosted in sedimentary rocks;
(c) Cekungan sedimen pada tektonik aktif  tectonically active sedimentary basins seperti pada busur belakang, zona rift, cekungan “foreland”  (back-arc, rift zones and  foredeep).
Umumnya ditempati lapangan minyak bumi generally hosting petroleum fields dan berada pada jarak ~ 300 km dari pusat-pusat gunung api yang baru aktif atau purba from recent or ancient volcanic centers.
• Telah dihasilkan peta global tersebar di dunia terdiri dari himpunan pertama  33 SGDS  dan himpunan kedua area potensi SGDS
Analisis ini menghasilkan suatu peta global analysis resulted in a global map termasuk himpunan pertama terdiri dari 33 SHGS yang berlokasi di Amerika Utara, Eropa Tengah dan Timur, Timur Jauh, Oceania Timur dan Selandia Baru Utara, dan himpunan kedua area potensial SHGS, yang terjadi juga di Amerika Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah dan Kamchatka.
  • Peta global SGDS yang dihasilkan dapat dikembangkan lebih lanjut berdasarkan analisis geologi yang lebih rinci dan data gas geokimia baru
Peta SHGS saat ini dapat berkembang the present SHGS map can evolve berdasarkan analisis geologis yang lebih rinci more detailed geological analysis dan data gas-geokimia baru and new gas-geochemical data.
 Kata kunci:
  • Sistem Geotermal pada Sedimen Sediment-hosted geothermal systems
  • Karbon dioksida Carbon dioxide
  • Metana Methane
  • Cekungan sedimen Sedimentary basins
KESIMPULAN
  • Studi ini telah mengusulkan kriteria metodologi untuk mendifinisi dan mengindentifikasikan Sistem Geotermal pada Sedimen (SHGS) berdasarkan integrasi faktor geologi dan geokimia
Studi ini menyediakan suatu tinjauan Sistem Geotermal Pada Sedimen (SGPS) provides a review of Sediment-Hosted Geothermal Systems (SHGSs), dan mengusulkan kriteria metodologi proposes methodological criteria untuk mendefinisikan dan mengidentifikasikan for their definition and identification, berdasarkan pada faktor-faktor geologi dan geokimia yang terintegrasi based on integrated geological and geochemical factors.
  • SGPS-SHGS sebagai sistem hibrida dimana domain geotermal dan sedimen terinteraksi sehingga terjadi percampuran gas anorganik dan biotik, memberikan implikasi pada sumberdaya energi dan lingkungan
(SGPS)  adalah sistem hibrida are hybrid systems dimana domain geotermal dan sedimen berinteraksi geothermal and sedimentary domains interact, mengarah pada campuran gas anorganik dan biotik leading to mixtures of inorganic and biotic gases, dengan implikasi-implikasi yang relevan dengan lingkungan dan sumber daya energi with relevant environmental and energy resource implications (Gambar  9).
  • Untuk mengindentifikasikan potensi SGPS baru telah digunakan pembatasan dari hasil analogi ciri perulangan penting terhadap beberapa SGPS yang telah ditentukan dari penelitian terdahulu
Beberapa SGPS yang dicirikan dari karya sebelumnya a few SHGSs recognized in previous works resulted telah menghasilkan analogi dan fitur-fitur berulang yang penting important analogies and recurring features,  telah digunakan sebagai pembatas awal preliminary constraints untuk mengidentifikasi potensi SGPS baru to identify new potential SHGSs.
  • Analogi yang digunakan sebagai pembatas yaitu a) dominasi aliran gas CO2, b) CH4 dari variable biotik mikroba atau termogenik umumnya >1,5 Vol, c) terjadi pada cekungan sedimen dengan tektonik aktif dan d) anomali aliran panas 0-160 mW/m2 dikontribusikan oleh sistem panas bumi atau volkanik, sill atau intrusi magma dalam
Analogi meliputi:
a)  Keberadaan aliran gas yang didominasi CO2 anorganik gas flows dominated inorganic CO2 ,
a) CH4 yang terkait dengan jumlah variabel biotik associated with variable amounts of biotic yaitu mikroba atau termogenik (microbial or thermogenic)  biasanya> 1,5 vol%,
c) Terjadi dalam cekungan sedimen occurring within sedimentary basins di daerah tektonik aktif in tectonically active regions, dengan anomali aliran panas (terutama antara 80 dan 160 mW/m2) karena adanya sistem panas bumi atau vulkanik due to the presence of geothermal or volcanic systems, sill dan/atau intrusi-intrusi magma yang dalam deep magma intrusions.
  • Identifikasi keberadaan 33 SHGS baru berlokasi global didasarkan kepada fitur gas-geokimia tertentu yaitu isotop dan molekuler  sebagai diagnostik pertama dalam pengujian sistam yang kaya CO2
Pengujian sistem kaya CO2 yang dikenal dalam literatur, fitur gas-geokimia tertentu  yaitu isotop dan molekuler (isotopic and molecular)  dari SHGS yang sebelumnya dikenal selanjutnya telah digunakan sebagai alat diagnostik pertama first diagnostic tool untuk mengidentifikasi keberadaan 33 SHGS baru di Amerika Utara, Eropa, Asia dan Oceania.
  • 33 SHGS diterapkan dengan analisis statistik dan data spasial geologis yaitu aliran panas, tebal sedimen, jarak geografis dari pusat volkanik memungkinkan untuk memetakan area SHGS tambahan di semua benua
 Analisis statistik dan spasial data geologis yang terkait dengan 33 SHGS, termasuk aliran panas heat-flow, ketebalan sedimen sediment thickness, dan jarak geografis dari pusat vulkanik geographic distances from volcanic centers dan lapangan minyak petroleum fields, memungkinkan untuk memetakan area SHGS tambahan yang potensial di semua benua to map additional, potential SHGS areas in all continents.
  • Hasil pemetaan area SHGS yang potensial dapat mewakili: a) zona emisi metana yang signifikan ke atmosfer, b) lokasi potensi bahaya gas, c) target baru untuk eksplorasi migas dan panas bumi baru
  • Area SHGS potensial yang dipetakan dalam studi  ini dapat mewakili zona emisi represent zones of significant emission metana yang signifikan ke atmosfer of methane to the atmosphere, lokasi potensial dengan bahaya gas potential sites with gas-hazard, dan target baru untuk eksplorasi minyak bumi dan panas bumi new targets for petroleum and geothermal exploration.
Analisis geologi lebih rinci  dan data gas geokimia baru dapat menyempurnakan Peta SHGS
Peta SHGS ini dapat disempurnakan berdasarkan analisis geologis yang lebih rinci dan data gas-geokimia baru of more detailed geological analysis and new gas-geochemical data.
  • Isotop rumpun CH4 bermanfaat dalam penilaian membedakan asal mula metana antara gas  termogenik hingga 250oC dan gas magmatik atau pasca magmatik (diproduksi padat >300-400oC)
  • Isotop rumpun CH4 CHclumped-isotopes, khususnya, dapat bermanfaat dalam penilaian  can be beneficial in the assessment asal mula metana of methane origin, yang dalam beberapa kasus masih belum dapat dipastikan dalam membedakan antara gas termogenik distinguishing between thermogenic gas (diproduksi hingga 250 ° C) dan gas magmatik atau pasca-magmatik magmatic or post-magmatic gas (diproduksi pada T> 300-400 ° C).
PENDAHULUAN
Pelepasan gas yang mengandung karbon dari Bumi the release of carbon-bearing gases from the Earth umumnya diklasifikasikan is generally classified dengan mempertimbangkan dua domain considering two distinct geologi yang berbeda dan luas and broad geological domains:
(a) Sistem-sistem gunung api-panas bumi bersuhu tinggi the high temperature volcano-geothermal systems, melepaskan gas kaya karbon dioksida (CO2) anorganik releasing inorganic carbon dioxide (CO2) rich gases, biasanya dihasilkan oleh termometamorfisme produced by thermometamorphism dari degassing batu gamping of limestones atau magma-mantel magma-mantle dan
(b) Cekungan sedimen suhu rendah the low temperature sedimentary basins, terutama melepaskan metana biotik releasing mainly biotic methane (CH4) dan hidrokarbon lainnya other hydrocarbons, yang dihasilkan oleh degradasi produced by microbial or thermogenic degradation mikroba atau termogenik dari bahan organik organic matter, minyak atau batubara oil or coal pada batuan sedimen in sedimentary rocks.
Terdapat banyak literatur a wide body of literature exists tentang geokimia dan geologi about geochemistry and geology dari proses-proses degassing seperti itu, yang memiliki implikasi luas teradap lingkungan considerable implications for the environment, bahaya geologi geo-hazards, perubahan iklim global global climate changes dan eksplorasi sumber daya energi and energy resource exploration sebagaimana, sejarah kasus yang relevan dan ulasan dilaporkan oleh Klusman et al., 1998; Kerrick, 2001; Etiope and Klusman, 2002; Mörner and Etiope, 2002; Chiodini et al., 2004; Burton et al., 2013; Etiope, 2015.
Namun, dalam banyak kasus, domain geotermal dan sedimen geothermal and sedimentary domains sebagian dapat tumpang tindih can partially overlap, yang mengarah ke sistem geologi hibrida leading to hybrid geological systems dengan campuran gas anorganik dan biotik with mixtures of inorganic and biotic gases.
Sistem hibrida hybrid systems ini dikenal sebagai Sistem Geotermal yang ditempati pada oleh sedimen known as Sediment-Hosted Geothermal Systems (SHGSs), atau Sistem Hidrotermal  /difasilitasi pada Sedimen Sediment-Hosted Hydrothermal Systems (SHHSs).
Pada makalah ini akan digunakan istilah pertama the first term, SHGS, unuk membahas alasan-alasan discussing the reasons pada Bab 2.
Sistem ini mengacu pada cekungan sedimen systems refer to sedimentary basins yang diganggu oleh intrusi magmatik perturbed by magmatic intrusions atau yang terlibat dalam sistem pipa vulkanik involved in volcanic plumbing systems.
Juga ditandai dengan cairan panas bumi yang kaya CO2 characterized by CO2–rich geothermal fluids  dan CH4 biotik and CH4 biotic yaitu mikroba atau termogenik microbial or thermogenic, yang bersumber sourced from dari sedimen kaya organik the organic-rich sediments.
Konsentrasi CO2 anorganik Inorganic COconcentrations umumnya melebihi 50 vol%. Konsentrasi CH4 dan alkana yang lebih berat, seperti etana dan propana heavier alkanes, such as ethane and propane umumnya lebih tinggi CHconcentrations are generally higher  kira-kira> 1-2 vol% daripada yang terjadi dalam cairan vulkanik-panas bumi murni occurring in pure volcanic-geothermal fluids biasanya dalam urutan ppbv atau ppmv typically in the order of ppbv or ppmv; Taran and Giggenbach, 2003; Capaccioni et al., 2004; Etiope et al., 2007; Fiebig et al., 2015).
SHGS adalah umum, sebagai sistem purba as palaeo-systems di provinsi batuan beku besar in the large igneous provinces seperti di Afrika Selatan, Siberia dan provinsi Atlantik Utara (Jamtveit et al., 2004; Svensen et al., 2004; Svensen et al., 2007a,b; Svensen et al., 2009a,b; Jones et al., 2016; Reynolds et al., 2017).
LUSI SALAH SATU SHGS AKTIF TERBESAR DI DUNIA:
SHGS aktif Active SHGSs dicirikan keberadaannya are recognized di Guaymas Basin Rift di Teluk California (Welhan and Lupton, 1987; Berndt et al., 2016), di lapangan panas bumi Laut Salton the Salton Sea geothermal field in California (e.g., Helgeson, 1968; Mazzini et al., 2011), di Jawa Indonesia (Lusi eruption; Mazzini et al., 2012)di dalam Delta Tiber within the Tiber Delta, at Fiumicino, in central Italy (Ciotoli et al., 2016)  dan di Songliao Basin di China (Shuai et al., 2018).
Manifestasi permukaannya surface manifestations, seperti kawah berlumpur like muddy craters atau kolam yang menggelegak bubbling pools, mungkin mirip dengan, dan dengan demikian dapat dikacaukan dengan manifestasi gas sedimen murni pure sedimentary gas manifestations seperti rembesan hidrokarbon (hydrocarbon seeps), seperti halnya dengan gunung lumpur uch as mud volcanoes (Etiope, 2015; Mazzini dan Etiope, 2017), atau hanya manifestasi geotermal / vulkanik geothermal/volcanic manifestations. Misalnya  mofettes mofettes, kolam yang menggelegak bubbling pools, geyser berlumpur muddy geysers
Perbedaan antara The distinction between SHGSs, sistem sedimen murni  pure sedimentary systems  dan kompleks geotermal-vulkanik geothermal-volcanic complexes bukan hanya masalah semantik  is not only a semantics problem.
Peengatributan SHGS menyiratkan The attribution of SHGS implies, pada kenyataannya, pengakuan proses geologis dan geokimia spesifik in fact, the recognition of specific geological and geochemical processes yang dapat memiliki implikasi khusus can have peculiar implications untuk eksplorasi minyak bumi dan studi perubahan iklim global for petroleum exploration and global climate change studies.
SHGS, pada kenyataannya,
(1) dapat menyebabkan produksi hidrokarbon may lead to production of hydrocarbons yang dihasilkan dari peningkatan kematangan termal batuan sumber sedimen resulting from enhanced thermal maturity of sedimentary source rocks;
(2) dapat menjadi sumber alami yang signifikan can be significant natural sources dari emisi gas rumah kaca CO2 dan CH4 of greenhouse gas CO2 and CH4 ke atmosfer emissions to the atmosphere (Etiope, 2015, 3) merupakan pendorong potensial perubahan iklim masa lalu are potential driver of past climate changes  (Svensen et al., 2004; Aarnes et al., 2010; Iyer et al., 2013; Polozov et al., 2016).
Namun demikian, studi sistematis untuk karakterisasi SHGS aktif systematic studies for active SHGS characterization dan distribusi di seluruh dunia tidak ada and worldwide distribution are missing.
Oleh karena itu pada makalah ini  akan dibahas tentang SHGS yang diidentifikasi sebelumnya we provide a review of previously identified SHGSs (Bab 3) dan mengusulkan kriteria geokimia dan geologi propose geochemical and geological criteria untuk pengidentifikasian dan karakterisasi mereka for their identification and characterization (Bab 4).
Secara khusus, diagram genetika gas gas genetic diagrams akan menunjukkan perbedaan mendasar will show fundamental differences antara sistem klasik yang didominasi CO2 vulkanik, hidrotermal  among classic CO2-dominated  volcanic, hydrothermal systems  dengan sistem rembesan sedimen sedimentary seepage systems yang didominasi CH4 CH4-dominated, dan SHGS.
Kriteria ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi These criteria are then used to identify dan memetakan potensi SHGS lain di dunia map other potential SHGSs on the globe (Bab 4).
Disimpulkan menguraikan implikasi lingkungan We conclude outlining SHGS specific environmental dan sumber daya energi spesifik SHGS and energy resource implications (Bab 5).
Urutan bagan alur logis dari pendekatan ini The sequence of the logical flow chart of this approach  adalah skema pada Gambar. 1.
Penting untuk digarisbawahi It is important to highlight bahwa sebagian besar SHGS yang diidentifikasi sejauh ini that most of the SHGSs identified so far adalah Cekungan Guaymas, Laut Salton, Lusi, Fiumicino Tiber-Delta (Guaymas Basin, Salton Sea, Lusi, Fiumicino Tiber-Delta) telah diakui berdasarkan pada terjadinya manifestasi gas permukaan have been recognized based on the occurrence of surface gas manifestations. .
Namun demikian, konsep SHGS tidak tergantung pada pelepasan gas permukaan the concept of SHGS is independent of surface gas discharges, yang bertindak hanya sebagai “kendaraan” which act only as “vehicle” untuk informasi bawah permukaan subsurface information. 
Jelas Obviouslybahwa SHGS yang berkedudukan di dalam (bawah permukaan) mungkin juga ada deep-seated SHGSs may exist also tanpa ekspresi permukaan without any surface expression,, dan mereka dapat diidentifikasi melalui lubang bor dalam they can be identified through deep boreholes, seperti dalam kasus Cekungan Songliao as in the case of the Songliao Basin.
Dengan demikian, dalam pekerjaan ini,  telah dibahas potensi we have addressed the potential SHGSs yang diungkapkan oleh kedua manifestasi permukaan revealed by both surface manifestations  dan data lubang bor.

Gambar

Gambar 1. Sketsa urutan kriteria identifikasi SHGS Sketch of the sequence of SHGS. Menguji sistem   kayaCO2- yang dikenal dalam literatur examining CO2-rich systems known in the literature, karakteristik gas-geokimia yang aneh  dari isotop dan molekuler the peculiar gas-geochemical characteristics (isotopic and molecular) dari SHGS yang sebelumnya telah dikenal previously recognized SHGSs, telah digunakan sebagai alat diagnostik pertama have been used as a first diagnostic tool  untuk mengidentifikasi SHGS baru  identify new SHGSs.  Analisis statistik dan spasial Statistical and spatial analysis.
Data geologi yang terkait dengan SHGS baru of geological data related to the new SHGSs, termasuk aliran panas, sedimen ketebalan including heat-flow, sediment thickness dan jarak geografis dari pusat vulkanik dan ladang minyak, distances from volcanic centers and petroleum fields, telah memungkinkan untuk memetakan area SHGS tambahan yang potensial di semua benua has allowed to map additional, potential SHGS areas in all continents.
Gambar 2. Lokasi dan penampang yang disederhanakan (bukan untuk skala) dari SHGS yang diidentifikasi sebelumnya.
  (a) Cekungan Guaymas Guaymas Basin (modified after Lizarralde et al., 2007)
  (b) Laut Salton Salton Sea (modified after Bennet, 2011);
(c) Lusi (modified after Satyana, 2008).
(d) Tiber Delta-Fiumicino SHGS iber Delta-Fiumicino SHGS (modified after Carminati and Doglioni, 2012).
(e) Cekungan Songliao, bidang Changde TimurSongliao Basin, East Changde field (modified after Wang et al., 2016), HTB: Cekungan Tan Tan Hai Tan Basin, Tanlu G-H-R: Graben and horst range of the northern Tanlu Strike-Slip Fault System, SA Belt: Sikhote-Alin Orogenic Belt.
Gambar. 4. Sketsa konseptual dari SHGS sistem hibrid (hybrid system) dan hubungan dengan end members, sistem gunung berapi-panas bumi dan hidrokarbon volcano-geothermal and hydrocarbon systems. Sketsa itu tidak dengan  skala
Fig. 5. Distribusi global SHGS yang baru diidentifikasi Global distribution of the newly identified SHGSs  (titik-titik coklat) di Amerika Utara (a), Eropa (b) dan, Asia Timur dan Oseania (c). Titik-titik hitam mengacu pada SHGS diidentifikasi pada  karya-karya sebelumnya. Angka mengacu pada Tabel 2.
Gambar. 8. Alur kerja relatif terhadap pemetaan area rawan SHGS Workflow relative to the mapping of SHGS prone areas. Atas: input dataset raster; Bawah: menghasilkan peta global. Lokasi palaeo-SHGS berasal dari Svensen et al., 2003; Svensen et al., 2015; Jones et al., 2016; Jamtveit et al., 2004
Gambar. 9. Sketsa geologis konseptual SHGS  SHGS conceptual geological sketch (diperkenalkan pada Gambar. 4) terintegrasi dengan parameter geologi dan geokimia integrated with geological and geochemical parametrization yang dihasilkan dari penelitian ini  resulting from the present study.
Secara khusus, fitur gas-geokimia utama the main gas-geochemical features dirangkum untuk SHGS merupakan sistem hybrida are summarised for the SHGSs (hybrid system) dan untuk anggota akhir for the endmembers,  sistem gunungapi-panas bumi volcano-geothermal dan hidrokarbon and hydrocarbon systems.
DEFINISI
Keunikan sistem geologi hibrida, peculiarity of hybrid geological systems dengan komponen-komponen gunungapi-hidrotermal with volcano-hydrothermal dan sedimen sedimentary components, telah diakui dalam karya-karya sebelumnya  was recognized in early works, yaitu di California, pada lapangan panas bumi Laut Salton (Helgeson, 1968), di Teluk California  the Gulf of California, di Cekungan Guaymas at the Guaymas Basin  (Von Damm et al., 1985; Welhan and Lupton, 1987)  dan, baru-baru ini di Lusi at Lusi di Jawa Timur (Mazzini et al., 2012), di Italia tengah pada  Delta Tibe rcentral Italy within the Tiber Delta  (Ciotoli et al., 2013, 2016) dan di  the Songliao petroliferous basin di Tiongkok   (Shuai et al., 2018)·
Karya-karya ini mencatat bahwa cekungan sedimen berkedudukan dalam deep sedimentary basins yang dilintasi oleh cairan magmatik crossed by magmatic fluids atau intrusi batuan beku igneous intrusions, dapat mengakibatkan migrasi may result in the migration kombinasi fluida of a combination of fluids, yaitu air panas dan gas hot water and gases, dimana berbeda dari yang diamati  different from those observed dalam sistem volkanik-panas bumi klasik in classic volcanic-geothermal systems atau dengan cekungan sedimen yang klasik classic sedimentary basins.
Beberapa istilah several terms, seperti endapan mineral yang tempati sedimen  sediment-hosted mineral deposits  (Von Damm et al., 1985), sistem hidrotermal yang didominasi sedimen sediment-dominated hydrothermal systems (Jamtveit et al., 2004), sistem temperatur rendah yang ditempati sedimen sediment-hosted low temperature systems (Nicholson, 1993), sistem hidrotermal  ditempati sedimen sediment-hosted hydrothermal systems (Mazzini et al., 2011)  Ciotoli et al., 2013; Di Pippo, 2016; Ciotoli et al., 2016; Mazzini and Etiope, 2017; Shuai et al., 2018)  telah digunakan untuk mendefinisikan kedudukan geologis seperti ini were used to define this kind of geological setting; tetapi definisi yang jelas dan univocal but a clear and univocal definition dari istilah-istilah ini masih kurang  of these terms is still lacking.
Penulis di atas menggunakan istilah sedimen the above Authors used the term sediment, mengacu pada sistem yang ada di batuan sedimen referring to systems hosted in sedimentary rocks; sedangkan mereka sering menggunakan “panas bumi” they often used “geothermal”  atau “hidrotermal” “hydrothermal” mengacu pada emisi cairan panas.
Namun, “panas bumi” dan “hidrotermal” memiliki arti yang berbeda “geothermal” and “hydrothermal” have different meanings seperti yang diusulkan oleh by Jackson and Bates (1997).
Panas bumi mengacu pada sistem apa pun yang mentransfer panas dari dalam bumi Geothermal refers to any system that transfers heat from within the Earth  ke permukaan towards the surface, sedangkan hidrotermal adalah bagian dari panas bumi while hydrothermal is a subset of geothermal, yang menyiratkan bahwa perpindahan panas implying that the heat transfer secara manual dioperasikan oleh air secara konveksi  is manly operated by water (convection), dalam keadaan cairan   atau uap in liquid or steam state.
 Ini juga didefinisikan sebagai Sistem Geothermal Konvensional (CGS) This is also defined as Conventional Geothermal System (CGS) untuk menunjukkan sistem hidrotermal aliran panas tinggi klasik to indicate a classic high heat flow hydrothermal system  yang biasanya mencakup sirkulasi air meteorik that typically includes the circulation of meteoric water yang menyusup dan bermigrasi ke kedalaman beberapa kilometer that infiltrates and migrates to depths of several kilometers yang menghasilkan mekanisme transportasi konvektif generating convective transport mechanisms (Heasler et al., 2009).·
Namun demikian, sirkulasi hidrotermal tidak selalu hadir hydrothermal circulation is not always present di daerah bersuhu sedang-tinggi (panas bumi) in medium-high temperature (geothermal) areas dan di cekungan sedimen in sedimentary basins. Untuk alasan ini, para penulis lebih menyukai menggunakan istilah “Sistem Panas Bumi yang Ditempati Sedimen” refer to use the term “Sediment-Hosted Geothermal System” daripada “Hidrotermal” instead of “Hydrothermal”.
Beberapa penulis baru-baru ini memperkenalkan istilah Some authors recently introduced the term “Sumberdaya Panas Bumi Sedimen”  “Sedimentary Geothermal Resources” mengacu pada sistem sedimen dengan aliran panas rendah-menengah (<50 mW / m2) referring to sedimentary systems with low-medium heat flow (< 50 mW/m2), di mana energi panas bumi dapat dieksploitasi untuk penggunaan langsung dan/atau tidak langsung where geothermal energy can be exploited for direct and/or indirect use (Jiachao, 2012; Porro and Augustine, 2012; Anderson, 2013).
Dalam kerangka kerja ini, Rybach (1981) menggarisbawahi bahwa sumber daya geotermal highlighted that the geothermal resource  dibentuk secara ekonomis is formed by an economically dalam jumlah yang cukup dari konsentrasi panas sufficient amount of heat pada kedalaman yang dapat dibor concentration at drillable depth dari kerak bumi of the Earth’s crust.
Sedangkan sistem panas bumi secara whereas the geothermal system umum diklasifikasikan berdasarkan  is generally classified by karakteristik geologis, hidrogeologis dan perpindahan panasnya   its geological, hydrogeological and heat transfer characteristics.
Oleh karena itu, Sumberdaya Panas Bumi Sedimen the Sedimentary Geothermal Resources mungkin tidak memiliki fitur cairan hibrida may lack the hybrid fluid features dan, sebagai konsekuensinya, dapat mengecualikan SHGS yang dijelaskan dalam ulasan ini as a consequence, may exclude the SHGSs described in this review.
Untuk lebih memperjelas faktor gas-geokimia dan geologis yang menjadi ciri sebuah SHGS to better clarify the gas-geochemical and geological factors characterizing a SHGS, penulis menjelaskan secara singkat SHGS aktif briefly describe the active SHGSs yang diidentifikasi sejauh ini dentified so fa yaitu Cekungan Guaymas, Teluk California; Laut Salton, California; Lusi, Indonesia; Tiber Delta – Fiumicino, Italia; Songliao Basin , Cina (Guaymas Basin, Gulf of California; Salton Sea, California; Lusi, Indonesia; Tiber Delta – Fiumicino, Italy; Songliao Basin, China) (Tabel 1, Gambar. 2a-e), dengan fokus pada analoginya yang kuat focusing on their strong analogies.
Analogi ini akan digunakan sebagai referensi These analogies will be used as reference for untuk menetapkan kriteria geokimia-geologis for setting the geochemical-geological criteria untuk karakterisasi umum dan penyaringan global SHGS pertama for a general characterization and a first SHGS global screening  (Bab 4).
Identifikasi Sebelumnya dari SHGSs
3.1. Guaymas Basin (Gulf of California)
Gambar 2. Lokasi dan penampang yang disederhanakan (bukan untuk skala) dari SHGS yang diidentifikasi sebelumnya.
  (a) Cekungan Guaymas Guaymas Basin (modified after Lizarralde et al., 2007);   (b) Laut SaltonSalton Sea (modified after Bennet, 2011); (c) Lusi Lusi (modified after Satyana, 2008); (d) Tiber Delta-Fiumicino SHGS iber Delta-Fiumicino SHGS (modified after Carminati and Doglioni, 2012). Cekungan Songliao, bidang Changde TimurSongliao Basin, East Changde field (modified after Wang et al., 2016), HTB: Cekungan Tan Tan Hai Tan Basin, Tanlu G-H-R: Graben and horst range of the northern Tanlu Strike-Slip Fault System, SA Belt: Sikhote-Alin Orogenic Belt.
Cekungan Guaymas The Guaymas Basin terletak di bagian tengah Teluk California (N27 ° 03 ′; W111 ° 07 ′).
Merupakan suatu cekungan samudera dengan pemekaran aktif  an actively spreading oceanic basin yang merupakan bagian dari sistem sumbu pemekaran that is part of the system of spreading axes dan mengubah sesar transform transform faults yang membentang dari Jendul Pasifik Timur ke Sesar San Andreas extending from the East Pacific Rise to the San Andreas fault (Curray et al., 1982; Lonsdale dan Becker, 1985) (Gbr. 2a) .
Cekungan memiliki kedalaman maksimum ~ 2000 m dan terdiri dari dua sub-basin sub-basins berorientasi UT yang masing-masing panjangnya 30 dan 50 km (Lonsdale dan Becker, 1985).
Litologi cekungan The lithology of the basin dikaji melalui Proyek Pengeboran Laut Dalam(Curray et al., 1982).
Studi seismik menunjukkan adanya Seismic studies indicate the presence kantong magmatik di cekungan a magmatic chamber in the basin, di bawah kolom sedimen below a sedimentary column, setebal 700-1.000m Curray et al., 1982), yang dengan cepat menutupi lantai peregangan which rapidly covered the rift floor dengan kecepatan sedimentasi> 2 m /1000 tahun.
Urutannya termasuk sill basaltik The sequence includes basaltic sills yang kontak dengan diatom, endapan berkapur yang kaya akan bahan organik in contact with diatomaceous, calcareous deposits rich in organic matter dan mineral lempung detitik detritic clay minerals (Von Damm et al., 1985 and references therein).
Perkiraan suhu reservoir panas bumi estimated geothermal reservoir temperature adalah 315 ° C (Von Damm et al., 1985) dan aliran panas rata-rata yang dihitung adalah 453 mW / m2 the computed mean heat flow is 453 mW/m(Curray et al., 1982).
Komposisi kimiawi cairan Guaymas chemical composition of the Guaymas fluids adalah tipikal dari vent “panas” bawah laut yang dalam is typical of deep submarine “hot” vents, didominasi oleh CO2 (~ 90 vol%) diikuti oleh CH4 (~ 10 vol%) (Simoenit and Galimov, 1984; Galván et al., 2015).
 Selain pengaruh “magmatik” In addition to the “magmatic” sil basaltik the basaltic sills, fluida juga menunjukkan efek interaksi influence of  the fluids also show effects of interaction dengan bahan organik dalam sedimen (with organic matter within the sediments (German and Von Damm, 2003; Berndt et al., 2016).
Stres termal menyebabkan pematangan bahan organik yang cepat  Thermal stress caused rapid maturation of the organic matter dengan pembangkitan bersamaan minyak dan gas hidrokarbon termogenik with concomitant generation of oil and thermogenic hydrocarbon gas (Simoneit, 1988; Teske et al., 2016), sebagaimana ditunjukkan oleh by δ13CCHdata berkisar antara −51 dan −15 ‰ VPDB – Vienna Peedee standar Belemnite Vienna Peedee belemnite standard (Welhan and Lupton, 1987; Berndt et al., 2016).
Sumber fosil CH4 dikonfirmasi oleh pengukuran radiokarbon fossil source of CHis confirmed by radiocarbon measurements (14C-CH4 yang menunjukkan nilai 0,2 ± 0,1 pMC – persen Karbon Modern (Kessler et al., 2008a,b).
Data isotop karbon  CO2 carbon isotope (berkisar antara −6 dan + 2,7 ‰ VPDB) menunjukkan sumber yang terkait dengan reaksi termometamorfik suggest a source related to thermometamorphic reactions pada karbonat on carbonates dan degassing magma-mantel magma-mantle degassing (Welhan and Lupton, 1987).
3.2. Laut Salton,  Salton Sea (California)
Sistem panas bumi Laut Salton (Saat ini sebagai Danau Salton) The Salton Sea geothermal system terletak di Palung Salton is situated in the Salton Trough di California selatan (N33 ° 12; W115 ° 34 ′),
Suatu wilayah dengan manifestasi hidrotermal permukaan yang melimpah area with abundant surface hydrothermal manifestations, seperti kolam lumpur yang menggelegak bubbling mud pools, gryphon dan vent gas (Helgeson, 1968; Muffler and White, 1968; Sturz et al., 1992; Svensen et al., 2007a,b; Svensen et al., 2009a,b; Mazzini et al., 2011).
Salton Sea terjadi pada suatu cekungan “pull-apart” (terjadi peregangan dianara dua bidang sesar?) occurs in a pull-apart basin, diisi oleh batuan sedimen filled by sedimentary rocks dan diterobos oleh tubuh basalt dan riolit intruded by quaternary basalt and rhyolite bodies, sehingga menginduksi aliran panas tinggi hingga inducing high heat flow up to 600 mW/m600 (Svensen et al., 2007a,b; Mazzini et al., 2011; Onderdonk et al., 2011) (Fig. 2b). Intrusi dapat menyebabkan peningkatan suhu melebihi The intrusions can cause a temperature increase exceeding 350 ° C pada kedalaman 1400 m, degassing CO2 difus dan perubahan material organik  diffuse COdegassing and alteration of organic matter diffuse COdegassing and alteration of organic matter (Svensen et al., 2007a,b).
Komposisi kimia dari gas yang dibuang ke permukaan The chemical composition of gas discharged to the surface didominasi oleh CO2 dengan konsentrasi hingga 98 vol%, diikuti oleh CH4 (hingga 1,9 vol%) dan hidrokarbon yang lebih berat (C2 + <0,5 vol%).
Nilai δ13C-CO2 (dari −5,4 hingga + 0,4 ‰) berada dalam kisaran sumber magmatik within the range of magmatic sources dan reaksi dekarbonasi termal thermal decarbonation reactions  (Mazzini et al., 2011 and references therein), sedangkan δ13C-CH4 (dari −32 hingga −17,6 ‰)  disarankan pencampuran sumber termogenik dan abiotik suggests a mixing of (Mazzini et al., 2011 and references therein).
3.3. Lusi (Jawa Timur)
Awal Kejadian Lusi  Mei 2006  ditandai dengan munculnya semburan  yang tiba-tiba dari breksi lumpur, gas dan air mendidih, disepanjang Patahan Watukosek.
Tanggal 29 Mei 2006, breksi lumpur, gas, dan air mendidih boiling mud breccia, gas and water tiba-tiba menyembur suddenly erupted di Kabupaten Sidoarjo, di sepanjang sistem patahan Watukosek along the Watukosek fault system di timur laut Jawa,
Situs semburan ini bernama Lusi, sebuah singkatan dari Lumpur Sidoarjo di mana “Lumpur” adalah kata Bahasa Indonesia untuk “mud”.
Pada umur Lusi > 12 tahun  semburan masih aktif dengan kecepatan ~ 80.000m3/h
> 12 tahun kemudian,  Lusi masih aktif menyembur dengan kecepatan 80.000m3/h dengan kecepatan aliran Lusi is still active erupting with a flow rate of ~ 80.000 m3 / hari (awal 2018; Miller dan Mazzini, 2018).
Lusi lahir dan berkembang di Cekungan busur belakang berumur Tersier Tua di Jawa Timur, dicirikan dengan kecepatan sedimen yang cepat dari sedimen kaya material organik, sering ditutup oleh lapisan penyekat klastik volkanik
Lusi terletak di cekungan busur belakang berumur Tersier Tua located in a Tertiary aged back-arc basin di Jawa Timur (Kusumastuti et al., 2002), di mana sekuens sedimen dicirikan oleh kecepatan sedimentasi yang tinggi the sedimentary sequences are characterized by high sedimentation rates dari endapan yang kaya-organik of organic-rich deposits yang sering kali ditutup dengan unit penyekat capped by sealing units pasir tufaan atau klastik volkanik tuffaceous or volcanoclastic sands.
Karakteristik Lusi berbeda dengan fitur gunung lumpur lainnya hasil dari  volkanisme sedimen yang konvensial, karena lokasinya dekat dengan komplek volkanik Arjuno-Welirang-Penanggungan
Gunung lumpur Mud volcanoes sebagai vulkanisme sedimen (sedimentary volcanism tersebar luas di bagian pulau ini (Satyana, 2008; Mazzini dkk., 2007; Istadi dkk., 2012) tetapi Lusi telah diakui memiliki karakteristik Lusi has been recognized to have characteristics yang berbeda dari karakteristik klasik dari gunung lumpur characteristics that are different from those of classical mud volcanoes (Mazzini et al., 2012).
Berbeda dengan gunung lumpur yang tradisional lainnya di Jawa Unlike the other traditional mud volcanoes of Java, Lusi terletak di dekat Lusi is situated in the proximity  kompleks vulkanik Arjuno-Welirang yang besar the large Arjuno-Welirang volcanic complex.
Karakteristik utama gradien panas bumi relatif tinggi (42oC/km), pusat semburan suhu ditandai mencapai 100oC dicirikan oleh kantong konvektif dangkal yang diaktifkan oleh munculnya breksi lumpur mendidih, sedangkan cairan dicirikan oleh uap air yang tinggi. 
Di sini, gradien panas bumi relatif tinggi the geothermal gradient is relatively high (42 ° C / km), kawah utama the main crater (suhu hingga 100 ° C) ditandai dengan ruang konvektif dangkal is characterized by shallow convective chambers yang diaktifkan oleh munculnya breksi lumpur mendidih activated by the rise of boiling mud breccia (Di Felice et al., 2018) dan cairan dicirikan oleh konsentrasi uap air yang tinggi the fluids are characterized by high concentrations of water vapour.
Selain uap air yang dominan, CO2 sebagai gas utama  sebagian besar  proses degassing mantel-magma; Metana dengan asal termogenik
Selain uap air, CO2 adalah gas utama  the main gas (> 58 vol% fase kering) dan, dengan nilai δ13C-CO2 antara −2,2 dan −12,8 ‰, sebagian besar terkait dengan proses-proses pelepasan dari mantel is mostly associated to mantle-magma degassing dan / atau dekarbonasi;
metana, dengan konsentrasi hingga 40% (tim Mazzini dan The Lusi Lab, 2017) terkait dengan asal termogenik is related to thermogenic origin dengan δ13C-CH4 dari −31 hingga −51,8 ‰ (Mazzini et al., 2012; Mazzini dan tim Lusi Lab, 2017).
CO2 organik  pasca awal semburan mengandung CO2 organik berasal dari pelepasan gas dari lapisan sedimen dangkal dihubungkan dengan saluran aktif
Data isotop awal, yang dikumpulkan segera setelah semburan dimulai, menunjukkan adanya komponen CO2 organik the presence of an organic COcomponent  (Mazzini et al., 2012), yang ditafsirkan sebagai kontribusi degassing awal  interpreted as initial degassing dari lapisan-lapisan sedimen yang dangkal from the shallower sedimentary layers yang dibubungkan oleh saluran aktif layers pierced by the active conduit.
Rembesan satelit  yang tersebar beberapa km dari pusat semburan dengan CH4 yang lebih tinggi. Metan memiliki asal biotik yaitu termogenik bercampur dengan mikroba abiotik dan CO2 memiliki asal an organik
Ribuan rembesan satelit of satellite seeps yang tersebar dalam jarak beberapa kilometer di sekitar kawah (mis. Sciarra et al., 2018) biasanya memiliki konsentrasi CH4 yang lebih tinggi (hingga 99 vol%).Juga dalam kasus ini, metana memiliki asal biotik  yaitu termogenik, dicampur dengan mikroba a biotic (thermogenic, mixed with microbial) (δ13C-CH4 dari −41 hingga −66 ‰) dan CO2 memiliki asal anorganik inorganic origin (−8,2 ‰ ≤δ13C- CO2 ≤ − 4,12 ‰; Sciarra et; al., 2018).
Karakteristik geologi,  geofisika dan geokimia terpadu konsisten Lusi sebagai sebagai skenario Sistem Geotermal Pada Sedimen, dimana intrusi magma dan fluida hidrotermal  berkedudukan dalam  meningkatkan panas mengubah batuan sumber dan atau reservoir gas
Data geologi dan geofisika geokimia terpadu Integrated geochemical geological and geophysical data konsisten dengan skenario are consistent with a SHGS scenario di mana intrusi magmatik dan migrasi cairan hidrotermal yang berkedudukan dalam (> 4000 m) where deep seated magmatic intrusions and hydrothermal fluids bertanggung jawab atas peningkatan panas responsible for the enhanced heat yang mengubah batuan sumber dan / atau reservoir gas that altered source rocks and/or gas reservoirs (Gbr. 2c; Mazzini et al ., 2012; Fallahi et al., 2017; Mazzini et al., 2018; Inguaggiato et al., 2018).
4. Kriteria awal untuk identifikasi dan karakterisasi SHGS
4.1. Kendala
SHGS yang dijelaskan sebelumnya memiliki analogi penting dan fitur berulang have important analogies and recurring features.
Semua sistem berada di cekungan sedimen yang ditandai oleh faktor-faktor berikut in sedimentary basins characterized by the following factors:
(a) emisi gas ke permukaan, atau reservoir gas gas emissions to the surface, or gas reservoirs (seperti dalam kasus Songliao Basin-East Changde) yang didominasi oleh CO2 anorganik dominated by inorganic CO2 yang terkait dengan sejumlah variabel CH4 biotik associated with variable amounts of biotic CH4, biasanya lebih tinggi daripada 1,5 vol%;
(b) cekungan yang terletak di wilayah aktif tektonik located within a tectonically active region;
(c) keberadaan sill dan / atau intrusi magma presence of sills and/or deep magma intrusions yang dalam yang terkait dengan sistem panas bumi atau vulkanik related to geothermal or volcanic systems;
(d) aliran panas anomali anomalous heat flow (> 50 mW / m2);
(e) sedimen kaya bahan organik organic matter rich sediments dengan ketebalan melebihi 700 m;
Fitur berulang ini, yang dapat mewakili penentuan awal These recurring features, which may represent the preliminary constraints untuk mengidentifikasi potensi SHGS to identify potential SHGSs,, dibahas secara rinci dalam Bagian 4.1.1 berikut (poin a) dan 4.1.2 (poin b – e).
4.1.2. Batasan-batasan geologis Geological constraints
• SHGS memiliki konfigurasi geologi dan geokimia hibrida have a hybrid geological and geochemical configuration, dan oleh karena itu setengah jalan antara sistem panas bumi hydrothermal (konvensional) sensu strictu half-way between a hydrothermal (conventional) geothermal system sensu strictu dan sistem sedimen mengandung hidrokarbon a hydrocarbon-bearing sedimentary system.
• Konfigurasi seperti ini Such a configuration biasanya terjadi ketika faktor geologis   typically occurs when the geological factors yang tercantum dalam Bagian 4.1 (poin b, c, d dan e) hidup berdampingan coexist.
• Cekungan sedimen di wilayah aktif geodinamika Sedimentary basins in geodinamically active regions  (titik b) mengacu pada peregangan ekstensional extensional rifts, depresi depressions, cekungan busur belakang dan cekungan busur depan back-arc and forearc basins, baik di darat maupun lepas pantai onshore and offshore.
• Cekungan ini dapat menampung sistem-sistem patahan dan rekahan yang dalam dan permeabel can host deep and permeable fault and fracture systems yang dapat bertindak sebagai jalur that can act as pathways migrasi gas kerak atau mantel dalam yang kaya CO2 of migration of deep crustal or mantle gases (CO2-rich) dimana mendukung pencampurannya dengan gas sedimen yang lebih dangkal kaya dengan CH4 favouring their mixing with shallower sedimentary (CH4-rich) gases.
• Rezim tektonik yang luas dari cekungan ini the extensive tectonic regime of these basins juga dapat memungkinkan penempatan  can also allow for emplacement sill dan/atau intrusi magma of sills and/or magma intrusions (titik c), tidak harus mengarah ke pusat vulkanik aktif not necessarily leading to active volcanic centers.
• Sill umumnya dengan diabase sebagai batuan utama (generally with diabase as main rock) biasanya hanya menembus bagian bawah formasi sedimen typically penetrate only the bottom of the sedimentary formations, seperti yang diamati pada lubang bor di Laut Salton as observed in drill-holes in the Salton Sea (Mazzini et al., 2011)  dan dalam struktur Wanjinta di Cekungan Songliao in the Wanjinta structure of the Songliao Basin (Dai et al., 2005).
• Pada gilirannya, benda-benda “panas” ini menghasilkan aliran panas yang relatif tinggi these “hot” bodies produce relatively high heat flow  (titik d).
• SHGS yang diidentifikasi sejauh ini (Bagian 3.5) dicirikan oleh nilai aliran panas yang mencakup satu urutan besarnya are characterized by heat flow values spanning one order of magnitude, dari 60 mW/m2 (Songliao) hingga 600 mW/m2 (Laut Salton).
• Nilai-nilai ini dihasilkan dari kombinasi a combination proses pemindahan panas heat transfer processes secara konduksi dan konveksi of conduction and convection.
• Dalam sistem yang didominasi konduksi, aliran panas In conduction dominated systems the heat flow  umumnya <100 mW / m2; Turcotte and Schubert, 2012) terkait dengan dua hal produksi panas radiogenik radiogenic heat production dan  intrusif tubuh panas hot intrusive bodies.
Sedangkan pada sistem yang didominasi konveksi in convection-dominated systems, produksi panas secara khusus disebabkan oleh cairan the heat production is specifically induced  yang terkait dengan badan intrusif dan magmatik by fluids related to intrusive and magmatic bodies  (Moeck, 2014).
• Volume cairan terbesar The largest the volume of fluids, , tercepat pengangkutan panasnya the quickest the heat transport.
• Tidak ada studi khusus tentang kontribusi relatif proses konduktif vs konvektif dalam SHGS yang teridentifikasi on the relative contribution of conductive vs convective processes in the identified SHGSs.
 Aliran panas yang sangat tinggi dari Laut Salton very high heat flow of Salton Sea menunjukkan komponen konvektif yang signifikan argues for a significant convective component.
• Akhirnya, peregangan dan depresi ekstensi extensional rifts and depressions dapat ditandai dengan tingkat sedimentasi yang tinggi can be characterized by high sedimentation rates, yang mengarah ke formasi kaya bahan organik leading to organic matter rich formations dengan ketebalan beberapa ratus meter with thickness of several hundred meters (titik e).
• SHGS yang diidentifikasi sejauh ini sebenarnya memiliki tutupan sedimen melebihi 700 m.
Formasi seperti itu sering ditandai dengan batuan yang kaya akan bahan organik frequently characterized by rocks rich in organic matter  yaitu serpih shales  dengan Total Organic Carbon – TOC dari 0,1 hingga 11%, atau batugamping limestones  dengan TOC dari 0,1 hingga 3%; misalnya, e.g., Hunt, 1996), yang berevolusi menjadi matang dan terlalu matang batuan sumber evolved into mature and over-mature source rocks  (berkat faktor-faktor titik c dan d), atau dengan sistem minyak bumi yang lengkap complete petroleum systems, termasuk sumber, reservoir, dan batuan penutup source, reservoir and cap-rocks.
• Kedalaman penguburan dan jenis bahan organik Burial depth and type of organic matter mempengaruhi jalur pembentukan metana mikroba  influence the pathways of microbial methane generation (reduksi karbonat dan fermentasi asetat; mis., Whiticar, 1999).
• Jenis bahan organik dan evolusi suhu type of organic matter and temperature evolution menentukan komposisi isotop dan molekul gas termogenik determine the isotopic and molecular composition of thermogenic gas (e.g., Schoell, 1988).
• Kemunculan simultan fitur “panas bumi” dan “sedimen” The simultaneous occurrence of such “geothermal” and “sedimentary” features (titik a, b, c, d, e), dalam kombinasi variabel, merupakan syarat untuk identifikasi SHGS is a requisite for the identification of a SHGS (Gbr. 4).
Dengan demikian, diharapkan bahwa fitur gas-geokimia yang it is expected that those gas-geochemical features  didefinisikan dalam Bagian 4.1.1 benar-benar terjadi dalam kedudukan geologis yang dijelaskan di atas actually occur in the above described geological settings.
Implikasi terhadap Lingkungan dan Sumberdaya Energi
Environmental and energy resource implications of SHGSs
Seperti yang diuraikan pada Pendahuluan, SHGS mungkin memiliki implikasi untuk eksplorasi sumber daya energi, SHGSs may have implications for energy resource exploration, dan studi perubahan iklim global global climate change studies.
SHGS sebenarnya dapat menampung batuan sumber can in fact host source rocks  dengan kematangan termal yang ditingkatkan with enhanced thermal maturity. 
Dalam kasus-kasus tertentu, ada kemungkinan bahwa pengembangan hidrokarbon di batuan sedimen it is possible that the development of hydrocarbons in the sedimentary rocks difasilitasi oleh rezim termal yang tidak normal is facilitated by anomalous thermal regimes.
Sistem hidrokarbon ini mungkin tidak terjadi pada kedudukan sistem minyak bumi yang konvensional these hydrocarbon systems may not occur in conventional petroleum system settings, dan karena itu mereka tidak dapat dipertimbangkan as such they may not be considered dalam area target standar eksplorasi minyak bumi within the standard target areas of petroleum exploration.
Oleh karena itu, SHGS dapat mewakili sumber daya perbatasan SHGSs can represent frontier resources untuk eksplorasi gas alam for natural gas exploration.  
Batu sumber yang terlalu matang over-mature source rocks,  yang diinduksi oleh status panas yang tidak normal induced by anomalous thermal status, biasanya melepaskan gas kering typically release dry gas, ditandai dengan rasio metana / (etana + propana) yang tinggi characterized by high methane/(ethane + propane) ratios.
Rasio tinggi seperti itu dapat disalahartikan sebagai karena asal mikroba Such high ratios could be misinterpreted as due to microbial origin tetapi analisis isotop harus selalu dilakukan but isotopic analyses shall be always performed untuk menentukan asal gas to determine the gas origin.  
Selain itu, eksploitasi SHGS dapat membuka skenario energi baru the exploitation of the SHGSs could open new energy scenarios seperti pengembangan sistem yang diproduksi bersama such as the development of the co-produced systems di mana cairan kaya metana where methane-rich fluids diperbanyak dengan air panas atau uap are coproduced with hot water or steam untuk aplikasi panas bumi langsung dan tidak langsung for indirect and direct geothermal applications (Gallup, 2009).
Sistem yang diproduksi bersama untuk penggunaan panas bumi langsung co-produced systems for direct geothermal uses yaitu pemanasan distrik  district heating telah berhasil digunakan di beberapa cekungan have been successfully employed in some basins  sebagai Pannonia (Hongaria) dan Paris Basin (Prancis), yang sebenarnya telah diidentifikasi sebagai area SHGS potensial dalam analisis kami which actually have been identified as potential SHGS areas in our analysis (lihat Gambar 8), sedangkan untuk aplikasi tidak langsung for the indirect applications  yaitu produksi daya (power production) teknologi ini masih jarang dikembangkan (NREL, 2010).
Selain itu, SHGS dapat menjadi sumber alami gas rumah kaca CO2 dan CH4 can be a significant natural source of greenhouse gas  yang signifikan bagi atmosfer for the atmosphere.  
Pentingnya dan makna gas-gas ini importance and meaning of these gases, dan sumber-sumber alaminya natural sources, dalam studi iklim dibahas dalam literatur yang luas in climate studies are discussed in a wide body of literature (e.g., Ciais et al., 2013).
Manifestasi permukaan hidrokarbon seperti rembesan surface manifestations of hydrocarbons (seepage)  saat ini diakui sebagai sumber alami utama metana atmosfer are today recognized as a major natural source of atmospheric methane  (e.g., Ciais et al., 2013; Etiope et al., 2012; Schwietzke et al., 2016).
Namun, sumber-sumber ini hanya mencakup sedimen belaka these sources, however, included only mere sedimentary  yaitu rembesan gas-minyak, gunung  lumpur (gas-oil seeps, mud volcanoes) dan manifestasi geotermal vulkanik and geothermal volcanic manifestations   seperti mofettes, fumarol, degassing gunung-kawah (mofettes, fumaroles, volcano-crater degassing).
Dalam  kaitan ini SHGS belum dipertimbangkan secara khusus SHGSs have not been specifically considered. Dinamika degassing SHGS SHGS degassing dynamics mungkin memiliki peran khusus dalam hal ini may have a peculiar role in this respect.
CH4 yang terjadi dalam sekuens sedimen CHoccurring within the sedimentary sequences mungkin tidak memiliki tekanan yang cukup may not have sufficient pressure  untuk bermigrasi secara otonom to migrate autonomously  tetapi dapat mencapai permukaan but it can reach the surface berkat terjadinya aliran CO2  thanks to the occurrence of COflows, yang merupakan tipikal dari SHGS which is typical of SHGSs.
Oleh karena itu, proses “pengupasan” CH4 yang dioperasikan oleh CO2 the CH“stripping” process operated by CO adalah fitur khusus SHGS is a peculiar feature of SHGSs Survei fluks gas di SHGS di seluruh dunia dapat berkontribusi gas flux surveys in SHGSs worldwide may contribute to better estimate untuk memperkirakan lebih baik emisi geologis global CH4-CO2 to better estimate the global geological CH4-COemissions ke atmosfer.
Dicatat, kemudian, bahwa SHGS dapat mewakili situs berbahaya spesifik to better estimate the global geological CH4-COemissions  karena sifat peledak metana ue to the explosive properties of methane.
Metana dapat menyebabkan ledakan Methane can lead to explosions ketika konsentrasinya dalam kisaran sekitar 5-10% vol when its concentration is in a range of approximately 5–10 vol%   terhadap keberadaan oksigen. Level 5 vol% A level of 5 vol%  disebut sebagai Batas Ledakan Bawah (LEL) is referred to as the Lower Explosive Limit (LEL).  
Konsentrasi 0,5 vol% CH4, (yaitu, 10% dari LEL) A concentration of 0.5 vol% CH4, (i.e., 10% of the LEL),  harus dianggap sebagai batas di atas langkah mitigasi yang harus diambil should be considered the limit above which mitigation measures must be take (Etiope, 2015) .
Dalam banyak contoh (lihat Tabel 2, Gambar 6a-b), konsentrasi CH4 dalam SHGSs dapat mendekati kisaran eksplosif the concentrations of CHin SHGSs may approach the explosive range, sedangkan konsentrasi CH4 dalam geothermal murni dan rembesan petroliferous (minyak atau gas) umumnya di luar kisaran ini whereas CHconcentration in pure geothermal and petroliferous (oil or gas) seeps is generally outside this range.
Appendix A. Supplementary data
Supplementary data to this article can be found online at https:// doi.org/10.1016/j.earscirev.2019.03.020.
References
Caracausi, A., Italiano, F., Nuccio, P.M., Paonita, A., Rizzo, A., 2003. Evidence of deep magma degassing and ascent by geochemistry of peripheral gas emissions at Mount Etna (Italy): Assessment of the magmatic reservoir pressure. J. Geophys. Res. 108. https://doi.org/10.1029/2002JB002095.
CGG, 2015. Organic Geochemistry Data from FRogi and the Fluid Features Database. Available at. http://robertson.cgg.com/products/frogi.
Chiodini, G., Cardellini, C., Amato, A., Boschi, E., Caliro, S., Frondini, F., Ventura, G., 2004. Carbon dioxide Earth degassing and seismogenesis in central and southern Italy. Geophys. Res. Lett. 31. https://doi.org/10.1029/2004GL019480.
Ciotoli, G., Etiope, G., Marra, F., Florindo, F., Giraudi, C., Ruggiero, L., 2016. Tiber delta CO2-CH4 degassing: a possible hybrid, tectonically active Sediment-Hosted Geothermal System near Rome. J. Geophys. Res. Solid Earth 121. https://doi.org/10. 1002/2015JB012557.
Curray, J.R., Moore, D.G., Kelts, D., Einsele, G., 1982. Tectonics and geological history of the passive continental margin at the tip of Baja California. In: Moore, et al., Initial Reports of the Deep Sea Drilling Project, vol. 64, 1089–1116.
Gosnold, W.D., Panda, B., 2002. The Global Heat Flow Database of the International Heat Flow Commission. Available at: http://www.datapages.com/gis-map-publishingprogram/gis-open-files/global-framework/global-heat-flow-database/global-heatflow (Last download June 2018).
Grassa, F., Capasso, G., Favara, R., Inguaggiato, S., Faber, S., Valenza, M., 2004. Molecular and isotopic composition of free hydrocarbon gases from Sicily, Italy. Geophys. Res. Lett. 31. https://doi.org/10.1029/2003GL019362.
Istadi, B.P., Wibowo, H.T., Sunardi, E., Hadi, S., Sawolo, N., 2012. Mud Volcano and Its Evolution, Earth Sciences. In: Imran Ahmad Dar (Ed.), (ISBN: 978-953-307-861-8, InTech).
Kessler, J.D., Reeburgh, W.S., Valentine, D.L., Kinnaman, F.S., Peltzer, E.T., Brewer, P.G., Southon, J., Tyler, S.C., 2008a. A survey of methane isotope abundance (14C, 13C, 2H) from five nearshore marine basins that reveals unusual radiocarbon levels in subsurface waters. J. Geophys. Res. 113. https://doi.org/10.1029/2008JC004822.
Kessler, J.D., Reeburgh, W.S., Valentine, D.L., Kinnaman, F.S., Peltzer, E.T., Brewer, P.G., Southon, J., Tyler, S.C., 2008b. A survey of methane isotope abundance (14C, 13C, 2H) from five nearshore marine basins that reveals unusual radiocarbon levels in subsurface waters. J. Geophys. Res. 113. https://doi.org/10.1029/2008JC004822.

Lowenstern, J.B., Janik, C.J., Fahlquist, L., Johnson, L.S., 1999. Gas and isotope geochemistry of 81 steam samples from wells in The Geysers geothermal field, Sonoma and Lake Counties, California, U.S.A. Open-File Report 99-304. https://doi.org/10. 3133/ofr99304.
Robertson Basins and Plays (Tellus TM) Sedimentary Basins of the World Map. Available at: http://www.datapages.com/gis-map-publishing-program/gis-open-files/globalframework/robertson-tellus-sedimentary-basins-of-the-world-map (Last download June 2018).
Svensen, H., Hammer, Ø., Mazzini, A., Onderdonk, N., Polteau, S., Planke, S., Podladchikov, Y.Y., 2009b. Dynamics of hydrothermal seeps from the Salton Sea geothermal system (California, USA) constrained by temperature monitoring and time series analysis. J. Geophys. Res. 114. https://doi.org/10.1029/2008JB006247.
Taran, Y.A., Giggenbach, W.F., 2003. Geochemistry of Light Hydrocarbons in SubductionRelated Volcanic and Hydrothermal Fluids. Society of Economic Geologists Special Publication 10. pp. 61–74.
Teske, A., de Beer, D., McKay, L.J., Tivey, M.K., Biddle, J.F., Hoer, D., Lloyd, K.G., Lever,
M.A., Røy, H., Albert, D.B., Mendlovitz, H.P., MacGregor, B.J., 2016. The Guaymas Basin Hiking Guide to hydrothermal mounds, chimneys, and microbial mats: complex seafloor expressions of subsurface hydrothermal circulation. Front. Microbiol. https://doi.org/10.3389/fmicb.2016.00075.